<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711</id><updated>2012-02-17T07:00:36.788+08:00</updated><category term='Pribadi'/><category term='Psikologi'/><category term='UNNES'/><category term='Kisah'/><category term='Berita'/><title type='text'>Komunitas Untuk Teman-teman Psikologi UNNES</title><subtitle type='html'>Komunitas ini dimaksudkan agar teman-teman psikologi lebih tau menahu soal ke-Psikologi-an lebih jauh. Dan dapat mempererat solidaritas temen-temen dalam pergaulan, kerohanian, organisasi dan kegiatan-kegiatan yang lain. Kami harapkan juga masukan-masukan yang dapat membangun demi menemukan jati diri sebagai manusia psikologi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-6178057030600260227</id><published>2008-09-25T13:37:00.002+08:00</published><updated>2008-09-25T13:40:50.231+08:00</updated><title type='text'>Bisnis Lewat Ngenet</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;a href="http://langkahbaru.com/?r=97567" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://langkahbaru.com/banner1.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian tekan KLIK,tinggal ngisi sesuai prosedur yang ada&lt;br /&gt;dengan ini kalian bisa ngenet dengan melakukan bisnis&lt;br /&gt;selamat mencoba ya....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;a href="http://langkahbaru.com/?r=97567" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://langkahbaru.com/banner1.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-6178057030600260227?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/6178057030600260227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=6178057030600260227' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6178057030600260227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6178057030600260227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/09/bisnis-lewat-ngenet.html' title='Bisnis Lewat Ngenet'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-568922150547784049</id><published>2008-09-17T13:49:00.002+08:00</published><updated>2008-09-17T13:53:09.185+08:00</updated><title type='text'>Tips Menjalani Puasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNCbOC2Ad_I/AAAAAAAAADY/zgJ-5XG74Jk/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNCbOC2Ad_I/AAAAAAAAADY/zgJ-5XG74Jk/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246864231470495730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan telah datang! Inilah bulan istimewa yang disebut-sebut sebagai bulan seribu bulan, bulan penuh rahmat dan berkat, bulan keampunan yang ditunggu oleh umat Islam. Lewat puasa diharapkan manusia mensucikan diri, melakukan peleburan jiwa untuk menemukan kembali jati diri. Dengan menahan lapar dan dahaga, kita merasakan bagaimana penderitaan orang-orang yang hanya mampu makan satu kali sehari, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, agar ibadah puasa kita berjalan dengan baik, tentulah kita harus menjaga kebugaran fisik. Soalnya, berubahnya jadwal makan dari tiga kali sehari menjadi dua kali, ada juga dampaknya pada tubuh.&lt;br /&gt;Yang paling mencolok adalah penurunan berat badan yang umumnya bisa sampai 5%, meskipun ada juga yang naik sampai 2%. Penurunan berat badan amat terasa pada dua minggu pertama setelah puasa. "Tapi semua itu masih masuk dalam batas normal bagi orang sehat," jelas Dr. Ir. Ali Khomsan dari GMSK IPB, Bogor.&lt;br /&gt;Penurunan berat badan pada ibu rumah tangga cenderung lebih banyak dibandingkan dengan pria, apalagi menjelang akhir Ramadhan. Kegiatan ibu rumah tangga secara fisik tampaknya semakin bertambah di saat-saat itu, dan itu berarti kebutuhan energi pun meningkat. Namun apabila konsumsi yang masuk dalam tubuh cukup, penurunan berat badan tidak akan terlalu mengganggu.&lt;br /&gt;Atur aktivitas&lt;br /&gt;• Selain itu, menurut sebuah penelitian, tubuh manusia masih dapat bertahan tanpa makan selama dua minggu asalkan tetap minum atau masih bisa hidup selama seminggu tanpa minum, tapi puasa membuat tubuh memakai energi cadangan sebagai ganti pasokan makanan yang biasa dikonsumsi.&lt;br /&gt;Cadangan energi ini berbentuk glikogen (cadangan energi yang berasal dari karbohidrat). Apabila cadangan ini habis, maka akan digunakan cadangan lain dari lemak dan protein.&lt;br /&gt;Memang cadangan energi selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan yang berlangsung kurang lebih 12 jam masih mencukupi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Tetapi, kegiatan selama puasa hendaklah tidak berlebihan.&lt;br /&gt;Hal yang sangat dikhawatirkan jika melakukan kegiatan yang berlebihan adalah menurunnya pasokan cairan tubuh alias dehidrasi. Jika sedang tidak berpuasa, cairan yang hilang dari tubuh bisa langsung diganti. Namun jika sedang berpuasa, cairan tubuh yang kurang itu harus menunggu saat berbuka dulu. Akibatnya, tubuh akan kekurangan air dan ini mengganggu kerja fungsi organ tubuh yang lain.&lt;br /&gt;Maka dari itu dianjurkan agar menjalankan aktivitas yang tidak terlalu banyak mempergunakan tenaga. Kalaupun ingin melakukan aktivitas yang "berat-berat" seperti berolahraga, sebaiknya melakukannya saat menjelang berbuka puasa, kira-kira 1 - 2 jam sebelumnya. Dengan cara itu, begitu tubuh mengeluarkan keringat, kita bisa langsung menggantikannya pada saat berbuka puasa.&lt;br /&gt;"Bisa juga olahraga dilakukan sesudah berbuka puasa, tetapi sebaiknya 2 - 3 jam setelah perut diisi makanan," jelas dr. Elvina Karyadi, M.Sc. yang berkecimpung di Southeast Asian Ministers Of Education Organization &amp;amp; Tropical Medicine Regional Center For Community Nutrition.&lt;br /&gt;Walaupun begitu, tetap bergiat selama puasa asal tidak berlebihan memang sangat dianjurkan. Hal tersebut untuk merangsang keluarnya hormon antiinsulin yang berfungsi melepaskan gula darah dari "gudangnya". Kalau Anda bermalas-malasan selagi berpuasa, atau terlalu banyak tidur, maka tubuh Anda makin kurang energi alias tak bertenaga. Itu semua karena kadar gula dibiarkan menurun secara drastis.&lt;br /&gt;Selain tetap bergiat, mengatur menu saat sahur dan berbuka juga mempunyai peranan yang penting. Soalnya, saat itulah tubuh diisi makanan yang memenuhi syarat gizi agar kebutuhan kalori tercukupi.&lt;br /&gt;sumber: kompas.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-568922150547784049?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/568922150547784049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=568922150547784049' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/568922150547784049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/568922150547784049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/09/tips-menjalani-puasa.html' title='Tips Menjalani Puasa'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNCbOC2Ad_I/AAAAAAAAADY/zgJ-5XG74Jk/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-8635904437805149739</id><published>2008-09-15T00:47:00.003+08:00</published><updated>2008-09-15T01:01:03.530+08:00</updated><title type='text'>Kuliah Mingqu Pertama, Gimana Ya...?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SM1C-0GYX-I/AAAAAAAAAC0/X1wuFtLA4Kg/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SM1C-0GYX-I/AAAAAAAAAC0/X1wuFtLA4Kg/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245922787861225442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Risalah ini merupakan terjemahan dari tulisan Joyce T, Povlacs, Teaching and&lt;br /&gt;Learning Center, University of Nebraska Lincoln, USA. Ms. Povlacs memberi alasan&lt;br /&gt;antara lain : "......(risalah ini) ditulis untuk keberhasilan suatu kuliah dengan cara&lt;br /&gt;memulainya secara benar. Bentuknya serupa katalog usulan bagi para dosen yang rajin&lt;br /&gt;mencari cara segar menciptakan lingkungan belajar- mengajar paling baik (untuk&lt;br /&gt;keduabelah pihak)".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Usulan-usulan ini dikumpulkan dari para profesor di lingkungan University of&lt;br /&gt;Nebraska-Lincoln dan pengajar-pengajar universitas lain. Dasar pemikirannya adalah&lt;br /&gt;sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Membantu para mahasiswa menyesuaikan diri, dari  lingkungan belajar SLTA,&lt;br /&gt;liburan antar semester atau kegiatan panjang tanpa kuliah ke lingkungan belajar suatu&lt;br /&gt;universitas.&lt;br /&gt;2. Mengarahkan perhatian para mahasiswa pada situasi belajar nyata, yaitu suasana&lt;br /&gt;kelas.&lt;br /&gt;3. Menggugah keingintahuan intelektual—menantang minat mahasiswa.&lt;br /&gt;4. Membantu para pemula dan orang-orang yang baru mengenal disiplin ilmu yang  diajarkan melalui proses belajar.&lt;br /&gt;5. Mendorong mahasiswa untuk ikut aktif dalam proses belajar.&lt;br /&gt;6. Membina rasa bermasyarakat di dalam kelas.&lt;br /&gt;Butir-butir usulan tersebut tertulis di bawah ini. Pada situasi khusus barangkali&lt;br /&gt;perubahan dan modifikasi diperlukan untuk kesesuaian butir-butir tertentu. Dengan kata&lt;br /&gt;lain, sebagai pengajar orang juga dituntut untuk mengembangkannya secara kreatif.&lt;br /&gt;Membantu Mahasiswa Menyesuaikan Diri&lt;br /&gt;1. Datang tepat pada waktunya pada kuiiah pertama dan bersikap penuh percaya diri.&lt;br /&gt;2. Catat mahasiswa yang hadir. daftar nadir, absen, papan nama pada kertas dll.&lt;br /&gt;3. Perkenalkan para asisten kepada mahasiswa&lt;br /&gt;4. Berikan "hand-out" yang berisikan silabus dan bersifat informatif, artistik serta&lt;br /&gt;mudah dipahami.&lt;br /&gt;5. Beri tugas kepada mahasiswa pada hari pertama untuk dikumpulkan pada kuliah&lt;br /&gt;berikutnya&lt;br /&gt;6. Mulailah percobaan laboratorium pada hari pertama praktikum.&lt;br /&gt;7. Sebutkan hal-hal&lt;br /&gt;yang&lt;br /&gt;harus diperhatikan selama&lt;br /&gt;praktikum&lt;br /&gt;(tertulis&lt;br /&gt;maupun lisan) agar praktikum berjalan baik : acara-acara yang harus diselesaikan,&lt;br /&gt;prosedurnya, peralatan, kebersihan lab, pemeliharaan alat, faktor keamanan, hemat&lt;br /&gt;bahan, penggunaan waktu lab. secara efektif.&lt;br /&gt;8. Tunjukkan suatu strategi belajar yang dapat ditiru/dikembangkan oleh para&lt;br /&gt;mahasiswa.&lt;br /&gt;9. Ingatkan para mahasiswa akan hal-hal dasar dalam disiplin ilmu yang diajarkan&lt;br /&gt;apabila mereka pernah mendapatkannya.&lt;br /&gt;10. Berikan perkiraan kepada para mahasiswa berapa banyak waktu yang mereka&lt;br /&gt;perlukan untuk&lt;br /&gt;Prof. Edhi Martono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola Kuliah S-1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;memahami mata kuliah bersangkutan.&lt;br /&gt;11. Bagikan hand-out tambahan untuk membantu mahasiswa belajar lebih baik:&lt;br /&gt;bagaimana menggunakan perpustakaan, taktik belajar, bacaan-bacaan tambahan&lt;br /&gt;dan latihan-latihan.&lt;br /&gt;12. Terangkan bagaimana caranya belajar menghadapi ujian dalam mata&lt;br /&gt;kuliah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;13. Berikan peraturan tertulis tentang hal-hal dasar seperti absen, tugas yang&lt;br /&gt;terlambat dikumpulkan, prosedur tes dan ujian, cara pemberian nilai dan hal-hal&lt;br /&gt;umum lainnya, serta bertindaklah sesuai aturan ini.&lt;br /&gt;14. Umumkan jam bicara di luar jam kuliah sesering-seringnya dan jangan sekali-kali&lt;br /&gt;diingkari.&lt;br /&gt;15. Tunjukkan kepada mahasiswa bagaimana cara belajar bila jumlah pengikut kuliah&lt;br /&gt;besar.&lt;br /&gt;16. Berikan contoh-contoh soal ujian.&lt;br /&gt;17. Berikan contoh-contoh jawaban ujian.&lt;br /&gt;18. Terangkan perbedaan antara kerjasama kelompok dan kecurangan akademik/kerja&lt;br /&gt;sontekan; berikan batas tegas kapan suatu kerjasama dibutuhkan dan kapan&lt;br /&gt;dianggap terlarang.&lt;br /&gt;19. Berbicaralah kepada mahasiswa satu demi satu secara pribadi, satu orang satu hari,&lt;br /&gt;tanyakan pendapatnya tentang kuliah yang diberikan.&lt;br /&gt;20. Tanyalah mahasiswa-mahasiswa yang nampak kepayahan dalam kuliah tentang&lt;br /&gt;masalah-masalah lain yang barangkali sedang mereka hadapi saat ini.&lt;br /&gt;Menggugah Perhatian Mahasiswa&lt;br /&gt;21. Ucapkanlah salam, selamat pagi atau selamat siang kepada para mahasiswa.&lt;br /&gt;22. Awlailah kuliah pada waktunya.&lt;br /&gt;23. Masuklah kelas sedemikian rupa hingga kelas besar yang gaduh menjadi tenang&lt;br /&gt;danpenuh perhatian.&lt;br /&gt;24. Berikan pre-tes untuk topik hari itu.&lt;br /&gt;25. Awalilah kuliah dengan teka-teki, pertanyaan, paradoks, gambar atau kartun melalui&lt;br /&gt;slide untuk menekankan arti penting topik hari itu.&lt;br /&gt;26. Catat pertanyaan dan minat para mahasiswa terhadap topik pada hari itu pada&lt;br /&gt;papan tulis untuk dijawab dalam kuliah.&lt;br /&gt;27. Mintalah para mahasiswa menuiiskan masalah-masalah yang mereka anggap&lt;br /&gt;penting dalam hubungannya dengan kuliah hari itu.&lt;br /&gt;Menqquqah Keingintahuan Mahasiswa&lt;br /&gt;28. Mintalah mahasiswa menuliskan harapan dan keinginannya untuk kuliah yang&lt;br /&gt;bersangkutan serta tujuan mereka mengikuti kuliah.&lt;br /&gt;29. Buatlah metoda pemberian kuliah yang bervariasi dari satu kuliah ke kuliah yang&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;30. Berikan semacam jedah di tengah kuliah : ceritakan suatu anekdot, minta para&lt;br /&gt;mahasiswa meletakkan pensil dan pena, bicarakan peristiwa menarik hari itu dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola Kuliah S-1&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;31. Tunjukkan arti penting masyarakat sebagai narasumber : peristiwa-peristiwa budaya&lt;br /&gt;(pentas, konser), pasar malam, badan-badan pemerintah, alam lingkungan.&lt;br /&gt;32. Putarkan film sebagai pembanding : Berhenti ditengah-tengah untuk diskusi,&lt;br /&gt;perlihatkan gambar&lt;br /&gt;frame&lt;br /&gt;demi&lt;br /&gt;frame,&lt;br /&gt;tanggapi&lt;br /&gt;bersama-sama&lt;br /&gt;akhir/kesimpulan cerita, beguikan lembaran krtik, ulangi bagian-bagian tertentu&lt;br /&gt;yang menarik.&lt;br /&gt;33. Bicarakan filosofi mengajar kuliah bersangkutan dengan para mahasiswa.&lt;br /&gt;34. Bentuklah kelompok-kelompok mahasiswa untuk mendiskusikan alternatif lain untuk&lt;br /&gt;konsep yang sama.&lt;br /&gt;35. Pentaskan satu bentuk debat "perubahan pemikiran", dengan mahasiswa-&lt;br /&gt;mahasiswa yang berpindah tempat duduk seandainya mereka berubah pendapat.&lt;br /&gt;36. Ceritakan riset yang sedang dilakukan oleh pengajar saat itu, dan bagaimana&lt;br /&gt;mencapai situasi yang sekarang dihadapi.&lt;br /&gt;37. Lakukanlah suatu "permainan peran" untuk membentuk pendapat atau&lt;br /&gt;menggugurkan argumen.&lt;br /&gt;38. Mintalah mahasiswa untuk berperan sebagai seorang profesional dalam disiplin ilmu&lt;br /&gt;yang sedang dipelajari : sebagai filsufnya, sebagai ahli biologi, sebagai praktisi,&lt;br /&gt;sebagai ilmuwan, sebagai penentu keputusan.&lt;br /&gt;39. Berikan waktu khusus untuk melakukan tukar pendapat yang mampu menghasilkan&lt;br /&gt;ide atau "brainstorming" untuk memperluas pandangan mahasiswa.&lt;br /&gt;40. Berikan kepada mahasiswa dua pendapat yang saling bertentangan dari&lt;br /&gt;jurnal untuk perbandingan.&lt;br /&gt;41. Berikan kepada mahasiswa daftar masalah yang belum terpecahkan, dilemma, atau&lt;br /&gt;pertanyan besar dalam disiplin ilmu yang diajarkan dan mintalah mahasiswa&lt;br /&gt;mengutarakan cara-cara memecahkan persoalan - bukan pemecahan persoalan itu&lt;br /&gt;sendiri.&lt;br /&gt;42. Tanyalah para mahasiswa buku apa yang baru saja mereka baca.&lt;br /&gt;43. Tanyakan kepada para mahasiswa undang-undang/hukum yang bersangkutan&lt;br /&gt;dengan masalah-masalah dalam disiplin ilmu yang diajarkan dan apa saja yang&lt;br /&gt;telah dilakukan oleh badan-badan legislatif untuk mengaturnya.&lt;br /&gt;44. Tunjukkan kepada para mahasiswa bahwa pengajar memiliki antusiasme dan minat&lt;br /&gt;yang tinggi terhadap mata kuliah yang diajarkan.&lt;br /&gt;45. Undanglah pembicara-pembicara yang tahu tentang disiplin ilmu yang diajarkan.&lt;br /&gt;46. Susunlah suatu unit kuliah yang membawa mahasiswa pada suasana mencengkam&lt;br /&gt;menjelang penemuan-penemuan besar dalam disiplin ilmu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Dukungan Kepada Mahasiswa&lt;br /&gt;47. Catatlah nama dan alamat mahasiswa serta cara termudah menghubungi mereka.&lt;br /&gt;48. Bila ada yang berhalangan hadir, tanyakan sebab-sebabnya tanpa menginterogasi.&lt;br /&gt;49. Periksalah kemampuan para mahasiswa secara rutin dengan kuesioner atau pre-&lt;br /&gt;tes dan kembalikan segera kepada mereka.&lt;br /&gt;50. Berikan pertanyaan-pertanyaan untuk belajar.&lt;br /&gt;51. Jangan bosan mengulang-mengulang. Para mahasiswa harus mendengar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola Kuliah S-1&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;membaca atau melihat bahan-bahan pokok paling sedikit tiga kali.&lt;br /&gt;52. Pantaulah kemajuan belajar para mahasiswa : kuis ringkas untuk topik hari itu, atau&lt;br /&gt;tanggapan langsung.&lt;br /&gt;53. Gunakan umpan balik tanpa dinilai agar mahasiswa tahu sampai dimana kemajuan&lt;br /&gt;mereka : tempelkan jawaban untuk kuis yang tak dinilai, latihan-latihan dll.&lt;br /&gt;54. Berikan penghargaan kepada mereka yang berhak : pujian, tanda-tanda khusus,&lt;br /&gt;komentar pada lembar jawaban.&lt;br /&gt;55. Bersikaplah menghindari ketegangan : senyum, berikan "joke", komentar-komentar&lt;br /&gt;simpatik saat ujian.&lt;br /&gt;56. Tata-laksana. Tunjukkan struktur kuliah hari itu dengan transparensi atau tulisan di&lt;br /&gt;papan.&lt;br /&gt;57. Gunakan media ganda : transparensi, slide, film, video, kaset, model, bahan-bahan&lt;br /&gt;contoh.&lt;br /&gt;58. Berikan contoh-contoh bervariasi dengan menggunakan berbagai media&lt;br /&gt;untuk memberi gambaran pokok-pokok permasalahan dan konsep-konsep penting.&lt;br /&gt;59. Tawarkan bimbingan-bimbingan khusus kepada mahasiswa, baik secara individual&lt;br /&gt;maupun berkelompok.&lt;br /&gt;60. Beritahu para mahasiswa cara paling mudah menghubungi pengajar, kapan dan di&lt;br /&gt;mana biasanya berada, sumber-sumber informasi tentang kuliah yang&lt;br /&gt;bersangkutan, orang-orang yang dapat membantu mahasiswa dsb.&lt;br /&gt;61. Tuliskan tanggal-tanggal penting dalam jadwal kuliah dan tempelkan di papan/pintu&lt;br /&gt;kamar pengajar.&lt;br /&gt;62. Cari tahu apa pcndapat mahasiswa tentang kuliah-kuliah yang diberikan tanpa&lt;br /&gt;mereka merasa dikorek pendapatnya.&lt;br /&gt;63. Sediakan buku khusus berisi nilai praktikum dari acara ke acara yang terbuka bagi&lt;br /&gt;setiap mahasiswa dan selalu berisi nilai terbaru.&lt;br /&gt;64. Cari tahu apakah ada mahasiswa yang menghadapi persoalan-persoalan akademis&lt;br /&gt;dan beri petunjuk untuk menyelesaikannya dengan bagian yang berwenang.&lt;br /&gt;65. Katakan kepada para mahasiswa apa saja yang dikehendaki pengajar agar mereka&lt;br /&gt;dapat memperolah nilai A.&lt;br /&gt;Mendoronq Mahasiswa Belajar Secara Aktif&lt;br /&gt;66. Beri tugas menulis makalah.&lt;br /&gt;67. Beri tugas kepada mahasiswa untuk setidaknya tiga minggu sekali menulis&lt;br /&gt;pertanyaan, pendapat, komentar atau apa saja yang berhubungan dengan mata&lt;br /&gt;kuliah yang diajarkan.&lt;br /&gt;68. Mintalah mahasiswa mengkritik makalah rekan-rekannya atau memberikan jawaban&lt;br /&gt;singkat berdasar makalahnya untuk mengetahui tingkat pemahamannya.&lt;br /&gt;69. Beri kesempatan pda mahasiswa untuk bertanya langsung dan perhatikan&lt;br /&gt;tanggapan mereka.&lt;br /&gt;70. Perhatikan tanggapan mahasiswa terhadap suatu pertanyaan dan amati bentuk&lt;br /&gt;tanggapan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola Kuliah S-1&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;71. Bentuklah pasangan-pasangan mahasiswa yang saling mengajukan pertanyaan&lt;br /&gt;tentang topik yang diajarkan hari itu.&lt;br /&gt;72. Beri kesempatan kepada mahasiswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang&lt;br /&gt;topik hari itu.&lt;br /&gt;73. Mintalah mahasiswa mengemukakan contoh penerapan praktis kuliah yang&lt;br /&gt;diajarkan untuk masalah-masalah yang dijumpai sehari-hari.&lt;br /&gt;74. Beri kartu merah, kuning atau hijau kepada mahasiswa secara acak, dan ajukan&lt;br /&gt;pertanyaan khusus kepada kelompok-kelompok pemegang kartu tertentu pada suatu&lt;br /&gt;kuliah.&lt;br /&gt;75. Kelilingi kelas pada saat mereka mengerjakan kuis dan ajaklah mahasiswa&lt;br /&gt;bercakap-cakap saat mereka mengerjakan soal.&lt;br /&gt;76. Beri pertanyaan salah satu mahasiswa dan tunggu sampai dia memberi jawaban.&lt;br /&gt;77. Letakkan kotak saran di belakang kelas dan mintalah mahasiswa mengisinya sekali&lt;br /&gt;waktu.&lt;br /&gt;78. Berikan kuis mendadak, uji pilih berganda atau yang sejenis itu untuk menguji&lt;br /&gt;kesiapan mahasiswa.&lt;br /&gt;79. Bentuk kelompok dan beri tugas khusus untuk kelompok-kelompok tersebut.&lt;br /&gt;80. Beri nilai sebagian ujian secara langsung di hadapan mahasiswa sebagai alat bantu&lt;br /&gt;akhir.&lt;br /&gt;81. Beri kesempatan sebanyak-banyaknya kepada mahasiswa sebelum midterm atau&lt;br /&gt;ujian akhir.&lt;br /&gt;82. Berikan ujian sedini-dininya pada awal semester dan kembalikan segera untuk&lt;br /&gt;menunjukkan masing-masing mahasiswa.&lt;br /&gt;83. Berikan tugas yang harus dikerjakan oleh beberapa mahasiswa bersama-sama.&lt;br /&gt;84. Beri tugas untuk menulis kembali secara singkat makalah-makalah yang agak sulit&lt;br /&gt;dipahami.&lt;br /&gt;85. Beri kuis untuk dibawa pulang berhubungan dengan topik hari itu.&lt;br /&gt;86. Mintalah mahasiswa untuk mencari guntingan koran atau bahan berita&lt;br /&gt;lainnya yang berhubungan dengan mata kuliah bersangkutan.&lt;br /&gt;Membangun Kekerabatan&lt;br /&gt;87. Hapalkan nama mahasiswa, paling tidak beberapa diantaranya.&lt;br /&gt;88. Bentuk sistem saling bantu hingga mahasiswa dapat saling menghubungi untuk&lt;br /&gt;bertukar pikiran.&lt;br /&gt;89. Mintalah data pribadi para mahasiswa dengan secarik kertas/sepotong kartu indeks.&lt;br /&gt;90. Ambil gambar/foto para mahasiswa dalam kelompok dan tempelkan pada papan&lt;br /&gt;pengumuman mata kuliah yang bersangkutan.&lt;br /&gt;91. Bantulah para mahasiswa membentuk kelompok tiga orang yang berguna&lt;br /&gt;untuk saling membantu dan bersama-sama membina pemahaman terhadap mata&lt;br /&gt;kuliah bersangkutan.&lt;br /&gt;92. Bentuk kelompok-kelompok kecil agar mahasiswa saling mengenal. Ubahlah&lt;br /&gt;susunan anggota kelompok secara rutin agar merata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengelola Kuliah S-1&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;93. Berilah tugas seawal-awalnya dalam suatu semester dan beri cukup waktu bagi&lt;br /&gt;mahasiswa untuk membentuk tim.&lt;br /&gt;94. Mintalah pendapat para mahasiswa tentang narasumber yang dapat dipergunakan&lt;br /&gt;dari luar, misalnya penceramah dll.&lt;br /&gt;Umpan-balik untuk Penqajar&lt;br /&gt;95. Mintalah umpan-balik dari para mahasiswa dalam tiga minggu pertama kelas untuk&lt;br /&gt;menilai dan memperbaiki cara pemberian kuliah.&lt;br /&gt;Demikianlah 95 hal yang dapat dilakukan oleh seorang pengajar dalam&lt;br /&gt;memberikan kuliah demi tercapainya tingkat pemahaman mahasiswa yang setidaknya&lt;br /&gt;dapat dipertanggungjawabkan. Dengan demikian memang jelas bahwa filosofi&lt;br /&gt;pendekatan-pendekatan diatas adalah untuk benar-benar memindahkan pengetahuan&lt;br /&gt;dan informasi yang dimiliki oleh pengajar kepada para mahasiswanya. Lebih dari itu,&lt;br /&gt;dengan meminta mahasiswa belajar secara aktif dan menunjukan sumber-sumber&lt;br /&gt;informasi yang dapat mereka peroleh, penguasaan mahasiswa akan mata kuliah yang&lt;br /&gt;diberikan-lebih jauhnya penguasaan akan disiplin ilmu yang mereka pelajari-mungkin&lt;br /&gt;akan lebih baik dari pengajarnya sendiri. Suatu hal yang barangkali masih agak sulit&lt;br /&gt;diterima, namun jika diingat bahwa pada hakekatnya ilmu selalu mengalir dan&lt;br /&gt;berkembang menuju ke arah sempurna, keadaan seperti itu wajar saja, malahan&lt;br /&gt;demikianlah yang seharusnya terjadi.&lt;br /&gt;Perlu diingat juga bahwa masing-masing hal di atas bersifat saling mengait,&lt;br /&gt;sehingga hubungan satu dengan yang lain bolehjadi saling tindih. Seperti telah&lt;br /&gt;dikemukakan sebelumnya, hal-hal tersebut bukanlah suatu harga mati yang tidak dapat&lt;br /&gt;ditawar, melainkan terbuka untuk modifikasi, perubahan dan penyempurnaan.&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya semua ilmu, patokan dan hukum-hukumnya senantiasa peka&lt;br /&gt;terhadap masukan, perkembangan dan refleksi pemikiran baru. Keluwesan demikian&lt;br /&gt;inilah yang semoga membantu para pengajar mencapai tujuan sebaik-baiknya demi&lt;br /&gt;mencerdaskan kehidupan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-8635904437805149739?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/8635904437805149739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=8635904437805149739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/8635904437805149739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/8635904437805149739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/09/kuliah-mingqu-pertama-gimana-ya.html' title='Kuliah Mingqu Pertama, Gimana Ya...?'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SM1C-0GYX-I/AAAAAAAAAC0/X1wuFtLA4Kg/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-137521834306933832</id><published>2008-09-12T20:50:00.003+08:00</published><updated>2008-09-12T21:05:43.010+08:00</updated><title type='text'>Pengen Sembuh Dimarahi Dulu    ( Kisah Nyata)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SMppGCu7ZbI/AAAAAAAAACs/LrWc4YuZdlY/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SMppGCu7ZbI/AAAAAAAAACs/LrWc4YuZdlY/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245120268560197042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tulis ini adalah pengalaman saya beberapa hari yang lalu, saat saya nganter teman saya pergi ke Puskesmas "*ekara*". ada kejadian yang membuat saya terheran dan agak marah. Hal ini dipicu oleh pelayanan dari Puskesmas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini ceritanya.....:&lt;br /&gt;waktu saya nganter temen berobat ke Puskesmas beberapa hari yang lalu saya mendapat pengalaman baru. ternyata di Puskesmas "*ekara*" itu gratis...,gak bayar. obat yang diberikan juga gratis...,hebatya Indonesia. Wah kemajuan besar ne....&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu yang nyenengin.....,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang bikin saya jengkel itu sama pelayanan dari karyawan Puskesmas itu sendiri...bayangkan, temen saya yang sakit itu tidak diperiksa sama sekali. hanya ditanya keluhannya apa dan tau-tau dah dikasih resep obat (aneh gak tu....). Saya orang awam dalam duna kesehatan dan Perdokteran (...eh...Kedokteran...) tapi yang saya tau, penyakit itu bisa diketahui lewat pemeriksaan. Iya kalau dugaan dokter itu bener..., lha kalau salah...? bisa2 temen saya ini jd korban mal praktek....&lt;br /&gt;dan yang lebih parahnya lagi....temen saya ini dimarahi dokternya gara2 minta surat keterangan sakit. padahal temen saya ini sakit beneran.&lt;br /&gt;temen saya ini adalah termasuk orang yang berkecukupan...,dia mendapat perlakuan seperti ini. Bayangin kalau yang berobat itu orang miskin yang gak punya apa2...&lt;br /&gt;dah...kena semprot kaya gmna ya dari Dokternya...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;so buat temen2 yang dah baca curhatan Q ne....&lt;br /&gt;di Coment ya......kita ngobrol bareng tentang Dunia Kesehatan Indonesia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-137521834306933832?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/137521834306933832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=137521834306933832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/137521834306933832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/137521834306933832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/09/pengen-sembuh-dimarahi-dulu-kisah-nyata.html' title='Pengen Sembuh Dimarahi Dulu    ( Kisah Nyata)'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SMppGCu7ZbI/AAAAAAAAACs/LrWc4YuZdlY/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-405783564435974718</id><published>2008-09-11T14:25:00.004+08:00</published><updated>2008-09-11T14:30:21.072+08:00</updated><title type='text'>Menopause</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SMi6zRkfZAI/AAAAAAAAACk/Z-WRIgSYaps/s1600-h/gaul.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244647156125492226" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SMi6zRkfZAI/AAAAAAAAACk/Z-WRIgSYaps/s200/gaul.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;1. Pengertian menopause&lt;br /&gt;Menurut arti katanya, menopause berasal dari kata “men” berarti bulan, “pause, pausis, paudo” berarti periode atau tanda berhenti, sehingga menopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi. Menopause secara teknis menunjukkan berhentinya menstruasi, yang dihubungkan dengan berakhirnya fungsi ovarium secara gradual, yang disebut klimakterium (Kartono, 1992).&lt;br /&gt;Menopause adalah suatu fase dari kehidupan seksual wanita, dimana siklus menstruasi berhenti. Bagi seorang wanita, dengan berhentinya menstruasi ini berarti berhentinya fungsi reproduksi (tidak dapat hamil dan mempunyai anak), namun tidak berarti peranannya dalam melayani suami di bidang kebutuhan seksual berhenti dengan sendirinya (Hawari, 1996).&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa menopause adalah suatu fase dari kehidupan wanita yang ditandai dengan berakhirnya menstruasi dan berhentinya fungsi reproduksi.&lt;br /&gt;2. Periode terjadinya menopause&lt;br /&gt;Menurut Damayanti (2003), menopause dipacu oleh perubahan hormon dalam tubuh, yang diawali dengan terkelupasnya pelapis rahim (endometrium) bersama dengan sedikit darah, yang dipicu oleh kadar hormon progesteron yang rendah dalam tubuh. Pada waktu yang sama hormon perangsang folikel (FSH= Foilicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (Luteinizing Hormone) yang dihasilkan kelenjar hipofise merangsang proses pematangan telur dalam ovarium. Keadaan ini kemudian menghasilkan peningkatan kadar estrogen. Fase ini disebut fase pengelupasan.&lt;br /&gt;Fase pengelupasan akan segera diikuti fase proliferasi dimana kadar estrogen tinggi dan membuat endometrium mengalami penebalan. Akhirnya kadar hormon perangsang folikel dan hormon lutein mencapai puncaknya dan terjadi pelepasan sel telur dari ovarium (ovulasi). Folikel tempat sel telur dilepaskan akan membentuk sebuah kelenjar yang disebut corpus luteum yang menghasilkan progesteron, yang akan membuat kelenjar endometrium mengalami fase sekresi sebagai persiapan bila terjadi perubahan, sehingga siap untuk suatu kehamilan. Jika sel telur tidak dibuahi, kadar estrogen menurun, corpus luteum mengalami degenerasi dan kadar progesteronpun menurun.&lt;br /&gt;Wanita dilahirkan dengan sejumlah besar sel telur yang secara bertahap akan habis terpakai. Ovarium tidak mampu membuat sel telur baru, sehingga begitu sel telur yang dimiliki sejak lahir habis, maka ovulasi akan berhenti sama sekali. Jadi terdapat semacam kekurangan hormon yang menyebabkan sebagian besar masalah yang terjadi di sekitar menopause, yang berkembang sesudahnya. Ada tiga macam hormon penting yang diproduksi oleh ovarium, yaitu estrogen, progesteron, dan testosteron, dimana setelah mencapai menopause hormon-hormon ini tidak diproduksi.&lt;br /&gt;Santrock (2002) mengemukakan sejumlah perubahan fisik menandai masa dewasa tengah, beberapa perubahan mulai tampak lebih awal diusia 30 tahun, tetapi pada beberapa titik / bagian diusia 40 tahun, menurunnya perkembangan fisik menunjukkan bahwa masa dewasa tengah telah datang. Melihat dan mendengar adalah dua perubahan yang paling menyusahkan dan paling tampak dalam masa dewasa tengah. Daya akomodasi mata, kemampuan untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina-mengalami penurunan paling tajam pada usia 40 dan 59 tahun. Khususnya, individu pada usia tengah baya mulai mengalami kesulitan melihat obyek-obyek yang dekat.&lt;br /&gt;engenai terjadinya menopause, tidak ada batasan umur yang pasti. Sesungguhnya setiap wanita mengalaminya pada umur tertentu, setelah masa kesempurnaan berakhir. Sehubungan dengan itu para ahli memberikan batasan umur pada wanita menopause berbeda-beda antara satu dengan yang lain, karena ditinjau dari sudut yang berbeda pula.&lt;br /&gt;Purwantyastuti (2005) mengatakan bahwa umumnya wanita Indonesia mengalami menopause di usia 45-55 tahun. Hal yang sama juga dikatakan Braam dkk (1981), yang menyatakan bahwa sebagian besar wanita, menopause terjadi pada umur antara 45-55 tahun. Meskipun begitu ada beberapa wanita yang mengalami menstruasi terakhir sebelum umur 45 tahun, tetapi ada pula wanita yang sesudah berumur 57 tahun baru mendapatkan menstruasi terakhir.&lt;br /&gt;Menurut Pakasi (dalam Indarwati, 2000) menopause terjadi ditengah masa klimakterium, yaitu suatu masa yang dimulai pada akhir masa reproduksi dan berakhir pada awal lanjut usia, yaitu usia 40-63 tahun. Pada masa inilah menstruasi yang merupakan salah satu tanda kewanitaan seseorang dan cerminan dari kapasitas reproduksi wanita secara berangsur-angsur mulai berhenti.&lt;br /&gt;Muhammad (1981) menjelaskan bahwa pada suatu saat akan tiba waktunya bagi sisa-sisa folikel sel telur yang berada pada indung telur untuk mulai menghilang. Saat ini tidaklah sama pada setiap wanita. Perubahan ini terjadi secara mendadak, antara umur 45 tahun dan 55 tahun. Ada transisi yang bertahap dari masa kegiatan indung telur yang tidak ada lagi, ketika wanita itu sudah mulai memasuki usia menopause. Menurut Hastings (Damayanti, 2003) sebagian besar wanita mengalami menopause antara umur 40 tahun dan 55 tahun dan rata-rata pada umur 47 tahun.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa periode terjadinya menopause ketika persediaan sel telur habis, indung telur mulai menghentikan produksi entrogen yang akibatnya haid tidak muncul lagi. Pada wanita tersebut menginjak masa menopause, yang berarti berhentinya masa kesuburannya. Dan dengan melihat batasan umur wanita menopause yang telah disebutkan, dapat diambil kesimpulan batasan wanita akan mengalami menopause antara umur 40 tahun sampai 55 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gejala-gejala menopause&lt;br /&gt;Pada masa menopause diikuti perubahan-perubahan baik fisik maupun psikisnya. Untuk mengetahui masa menopause sudah datang pada wanita, ada beberapa gejala yang mendahului meskipun tidak semua wanita akan merasakan gejala-gejala ini.&lt;br /&gt;Reitz (dalam Damayanti, 2003) mengutarakan beberapa gejala yang mengawali masa menopause, yaitu:&lt;br /&gt;a. Berhentinya menstruasi secara mendadak. Mulai terjadi pola haid yang tidak beraturan, haid dapat berubah-ubah dari banyak menjadi sedikit tanpa pola tertentu pada wanita yang berusia sekitar 45 tahun keatas.&lt;br /&gt;b. Terjadinya arus panas. Hal ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan pada vasomotor.&lt;br /&gt;c. Rasa gelisah, mudah tersinggung, ketegangan dan kecemasan, termasuk perasaan tertekan, sedih, malas, emosi yang meluap, mudah marah, merasa tidak berdaya dan mudah menangis.&lt;br /&gt;d. Osteoporosis (pengeroposan tulang).&lt;br /&gt;e. Pruritis, merupakan istilah kedokteran untuk rasa gatal pada kulit di daerah vulva atau alat kelamin.&lt;br /&gt;enurut Kartono (1992) beberapa gejala yang menandai menopause yang disebut fase preliminer, yaitu:&lt;br /&gt;a. Menstruasi yang tidak lancar dan tidak teratur, yang datang lebih lambat atau lebih awal.&lt;br /&gt;. Kotoran, haid yang keluar banyak sekali ataupun sangat sedikit.&lt;br /&gt;c. Muncul gangguan-gangguan vasomotoris, yang berupa penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah.&lt;br /&gt;d. Merasa pusing, disertai sakit kepala terus menerus.&lt;br /&gt;e. Keringat berlebih, yaitu berkeringat yang tidak ada henti-hentinya.&lt;br /&gt;f. Neuralgia, yaitu gangguan atau sakit syaraf dan lain-lain.&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala menopause antara lain berhentinya menstruasi secara mendadak atau menstruasi yang tidak lancar dan tidak teratur, terjadinya arus panas, merasa gelisah, pusing, osteoporosis, pruritis, selalu berkeringat dan neuralgia. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-405783564435974718?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/405783564435974718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=405783564435974718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/405783564435974718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/405783564435974718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/09/menopause.html' title='Menopause'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SMi6zRkfZAI/AAAAAAAAACk/Z-WRIgSYaps/s72-c/gaul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-5279735178171637987</id><published>2008-08-24T22:44:00.002+08:00</published><updated>2008-08-24T22:45:56.448+08:00</updated><title type='text'>Komitmen Organisasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SLF0BjQP51I/AAAAAAAAACc/oRmnpwyy5-I/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SLF0BjQP51I/AAAAAAAAACc/oRmnpwyy5-I/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238095411600680786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua pendekatan dalam merumuskan definisi komitmen dalam berorganisasi. Yang pertama melibatkan usaha untuk mengilustrasikan bahwa komitmen dapat muncul dalam berbagai bentuk, maksudnya arti dari komitmen menjelaskan perbedaan hubungan antara anggota organisasi dan entitas lainnya (salah satunya organisasi itu sendiri). Yang kedua melibatkan usaha untuk memisahkan diantara berbagai entitas di mana individu berkembang menjadi memiliki komitmen. Kedua pendekatan ini tidak compatible namun dapat menjelaskan definisi dari komitmen, bagaimana proses perkembangannya dan bagaimana implikasinya terhadap individu dan organisasi (Meyer &amp;amp; Allen, 1997).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh: Karina, SPsi.&lt;br /&gt;Definisi&lt;br /&gt;Ada dua pendekatan dalam merumuskan definisi komitmen dalam berorganisasi. Yang pertama melibatkan usaha untuk mengilustrasikan bahwa komitmen dapat muncul dalam berbagai bentuk, maksudnya arti dari komitmen menjelaskan perbedaan hubungan antara anggota organisasi dan entitas lainnya (salah satunya organisasi itu sendiri). Yang kedua melibatkan usaha untuk memisahkan diantara berbagai entitas di mana individu berkembang menjadi memiliki komitmen. Kedua pendekatan ini tidak compatible namun dapat menjelaskan definisi dari komitmen, bagaimana proses perkembangannya dan bagaimana implikasinya terhadap individu dan organisasi (Meyer &amp;amp; Allen, 1997).&lt;br /&gt;Sebelum munculnya kedua pendekatan tersebut, ada suatu pendekatan lain yang lebih dahulu muncul dan lebih lama digunakan, yaitu pembedaan berdasarkan attitudinal commitment atau pendekatan berdasarkan sikap dan behavioral commitment atau pendekatan berdasarkan tingkah laku (Mowday, Porter, &amp;amp; Steers, 1982; Reichers; Salancik; Scholl; Staw dalam Meyer &amp;amp; Allen, 1997). Pembedaan yang lebih tradisional ini memiliki implikasi tidak hanya kepada definisi dan pengukuran komitmen, tapi juga pendekatan yang digunakan dalam berbagai penelitian perkembangan dan konsekuensi komitmen. Mowday et al. (Meyer &amp;amp; Allen, 1997) menjelaskan kedua pendekatan itu sebagai berikut. Attitudinal commitment berfokus pada proses bagaimana seseorang mulai memikirkan mengenai hubungannya dalam organisasi atau menentukan sikapnya terhadap organisasi. Dengan kata lain hal ini dapat dianggap sebagai sebuah pola pikir di mana individu memikirkan sejauh mana nilai dan tujuannya sendiri sesuai dengan organisasi di mana ia berada. Sedangkan behavioral commitment berhubungan dengan proses di mana individu merasa terikat kepada organisasi tertentu dan bagaimana cara mereka mengatasi setiap masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;Penelitian mengenai attitudinal commitment melibatkan pengukuran terhadap komitmen (sebagai sikap atau pola pikir), bersamaan dengan variable lain yang dianggap sebagai penyebab, atau konsekuensi dari komitmen (Buchanan &amp;amp; Steers dalam Meyer &amp;amp; Allen, 1997). Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa komitmen yang kuat menyebabkan terjadinya tingkah laku anggota organisasi sesuai dengan yang diharapkan (dari perspektif organisasi), seperti anggota organisasi jarang untuk tidak hadir dan perpindahan ke organisasi lain lebih rendah, dan produktivitas yang lebih tinggi. Tujuan yang kedua menunjukkan karakteristik individu dan situasi kondisi seperti apa yang mempengaruhi perkembangan komitmen berorganisasi yang tinggi.&lt;br /&gt;Dalam behavioral commitment anggota dipandang dapat menjadi berkomitmen kepada tingkah laku tertentu, daripada pada suatu entitas saja. Sikap atau tingkah laku yang berkembang adalah konsekuensi komitmen terhadap suatu tingkah laku. Contohnya anggota organisasi yang berkomitmen terhadap organisasinya, mungkin saja mengembangkan pola pandang yang lebih positif terhadap organisasinya, konsisten dengan tingkah lakunya untuk menghindari disonansi kognitif atau untuk mengembangkan self-perception yang positif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kondisi yang seperti apa yang membuat individu memiliki komitmen terhadap organisasinya (Kiesler &amp;amp; Salancik dalam Meyer &amp;amp; Allen, 1997).&lt;br /&gt;Komitmen dianggap sebagai psychological state, namun hal ini dapat berkembang secara retrospektif (sebagai justifikasi terhadap tingkah laku yang sedang berlangsung) sebagaimana diajukan pendekatan behavioral, sama seperti juga secara prospektif (berdasarkan persepsi dari kondisi saat ini atau di masa depan di dalam organisasi) sebagaimana dinyatakan dalam pendekatan attitudinal (Meyer &amp;amp; Allen, 1997).&lt;br /&gt;Meyer dan Allen (1991) merumuskan suatu definisi mengenai komitmen dalam berorganisasi sebagai suatu konstruk psikologis yang merupakan karakteristik hubungan anggota organisasi dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam berorganisasi. Berdasarkan definisi tersebut anggota yang memiliki komitmen terhadap organisasinya akan lebih dapat bertahan sebagai bagian dari organisasi dibandingkan anggota yang tidak memiliki komitmen terhadap organisasi.&lt;br /&gt;Penelitian dari Baron dan Greenberg (1990) menyatakan bahwa komitmen memiliki arti penerimaan yang kuat individu terhadap tujuan dan nilainilai perusahaan, di mana individu akan berusaha dan berkarya serta memiliki hasrat yang kuat untuk tetap bertahan di perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;Berdasarkan berbagai definisi mengenai komitmen terhadap organisasi maka dapat disimpulkan bahwa komitmen terhadap organisasi merefleksikan tiga dimensi utama, yaitu komitmen dipandang merefleksikan orientasi afektif terhadap organisasi, pertimbangan kerugian jika meninggalkan organisasi, dan beban moral untuk terus berada dalam organisasi (Meyer &amp;amp; Allen, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimensi Komitmen Dalam Berorganisasi&lt;br /&gt;Meyer dan Allen (1991) merumuskan tiga dimensi komitmen dalam berorganisasi, yaitu: affective, continuance, dan normative. Ketiga hal ini lebih tepat dinyatakan sebagai komponen atau dimensi dari komitmen berorganisasi, daripada jenis-jenis komitmen berorganisasi. Hal ini disebabkan hubungan anggota organisasi dengan organisasi mencerminkan perbedaan derajat ketiga dimensi tersebut.&lt;br /&gt;Affective commitment&lt;br /&gt;Affective commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, dan keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Anggota organisasi dengan affective commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena memang memiliki keinginan untuk itu (Allen &amp;amp; Meyer, 1997).&lt;br /&gt;Continuance commitment&lt;br /&gt;Continuance commitment berkaitan dengan kesadaran anggota organisasi akan mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi. Anggota organisasi dengan continuance commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena mereka memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota organisasi tersebut (Allen &amp;amp; Meyer, 1997).&lt;br /&gt;Normative commitment&lt;br /&gt;Normative commitment menggambarkan perasaan keterikatan untuk terus berada dalam organisasi. Anggota organisasi dengan normative commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota dalam organisasi karena merasa dirinya harus berada dalam organisasi tersebut (Allen &amp;amp; Meyer, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Fierman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-5279735178171637987?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/5279735178171637987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=5279735178171637987' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5279735178171637987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5279735178171637987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/komitmen-organisasi.html' title='Komitmen Organisasi'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SLF0BjQP51I/AAAAAAAAACc/oRmnpwyy5-I/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-5563417559702099052</id><published>2008-08-24T22:30:00.003+08:00</published><updated>2008-08-24T22:44:07.911+08:00</updated><title type='text'>Pengertian Persepsi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SLFxDpW9_VI/AAAAAAAAACM/DP3uTCOGwRA/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SLFxDpW9_VI/AAAAAAAAACM/DP3uTCOGwRA/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238092149064334674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Persepsi, menurut Rakhmat Jalaludin (1998: 51), adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafslrkan pesan. Menurut Ruch (1967: 300), persepsi adalah suatu proses tentang petunjukpetunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991: 201) mengemukakan bahwa persepsi adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994: 53) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai proses mengetahui atau&lt;br /&gt;mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan bantuan indera (Chaplin, 1989: 358)&lt;br /&gt;Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus.&lt;br /&gt;Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masuk ke dalam otak,&lt;br /&gt;kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru&lt;br /&gt;kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard, 1991 : 209).&lt;br /&gt;Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs), pengorganisasian&lt;br /&gt;stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang telah diorganisasi&lt;br /&gt;dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap, sehingga&lt;br /&gt;orang dapat cenderung menafsirkan perilaku orang lain sesuai dengan keadaannya&lt;br /&gt;sendiri (Gibson, 1986: 54). 9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan Persepsi dan Faktor-Faktor yang Menpengaruhi&lt;br /&gt;Proses pembentukan persepsi dijelaskan oleh Feigi (dalam Yusuf, 1991: 108) sebagai&lt;br /&gt;pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah&lt;br /&gt;mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan&lt;br /&gt;"interpretation", begitu juga berinteraksi dengan "closure". Proses seleksi terjadi pada&lt;br /&gt;saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian&lt;br /&gt;pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure&lt;br /&gt;terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang&lt;br /&gt;berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang&lt;br /&gt;bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara&lt;br /&gt;menyeluruh. Menurut Asngari (1984: 12-13) pada fase interpretasi ini, pengalaman&lt;br /&gt;masa silam atau dahulu. memegang peranan yang penting.&lt;br /&gt;Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari&lt;br /&gt;kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut sebagai&lt;br /&gt;faktor-faktor personal (Rakhmat 1998: 55). Selanjutnya Rakhmat menjelaskan yang&lt;br /&gt;menentukan persepsl bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang&lt;br /&gt;memberi respon terhadap stimuli.&lt;br /&gt;Persepsi meliputi juga kognisi (pengetahuan), yang mencakup penafsiran objek,&lt;br /&gt;tanda dan orang dari sudut pengalaman yang bersangkutan (Gibson, 1986 : 54). Selaras&lt;br /&gt;dengan pernyataan tersebut Krech, dkk. (dalam Sri Tjahjorini Sugiharto 2001: 19)&lt;br /&gt;mengemukakan bahwa persepsi seseorang ditentukan oleh dua faktor utama, yakni&lt;br /&gt;pengalaman masa lalu dan faktor pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Firman_gaul&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-5563417559702099052?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/5563417559702099052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=5563417559702099052' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5563417559702099052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5563417559702099052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/pengertian-persepsi.html' title='Pengertian Persepsi'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SLFxDpW9_VI/AAAAAAAAACM/DP3uTCOGwRA/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-6006353587784224895</id><published>2008-08-22T20:03:00.002+08:00</published><updated>2008-08-22T20:05:56.873+08:00</updated><title type='text'>Pengertian Sikap dan Perilaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SK6rnjXbbVI/AAAAAAAAACE/WT57fS3tb10/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SK6rnjXbbVI/AAAAAAAAACE/WT57fS3tb10/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237312112675220818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak sosiolog dan psikolog memberi batasan bahwa sikap merupakan&lt;br /&gt;kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap&lt;br /&gt;stimulus yang ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu&lt;br /&gt;kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, posotitif atau negatif&lt;br /&gt;terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi,&lt;br /&gt;situasi, ide, konsep dan sebagainya (Howard dan Kendler, 1974;&lt;br /&gt;Gerungan, 2000).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gagne (1974) mengatakan bahwa sikap merupakan suatu&lt;br /&gt;keadaan internal (internal state) yang mempengaruhi pilihan tidakan&lt;br /&gt;individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa. Masih banyak&lt;br /&gt;lagi definisi sikap yang lain, sebenarnya agak berlainan, akan tetapi&lt;br /&gt;keragaman pengertian tersebut disebabkan oleh sudut pandang dari&lt;br /&gt;penulis yang berbeda. Namun demikian, jika dicermati hampir semua&lt;br /&gt;batasan sikap memiliki kesamaan padang, bahwa sikap merupakan suatu&lt;br /&gt;keadaan internal atau keadaan yang masih ada dalam dari manusia.&lt;br /&gt;Keadaan internal tersebut berupa keyakinan yang diperoleh dari proses&lt;br /&gt;akomodasi dan asimilasi pengetahuan yang mereka dapatkan, sebagaimana&lt;br /&gt;pendapat Piaget’s tentang proses perkembangan kognitif manusia&lt;br /&gt;(Wadworth, 1971).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan diri inilah yang mempengaruhi respon pribadi terhadap obyek dan lingkungan sosialnya. Jika kita yakin bahwa mencuri adalah perbuatan tercela, maka ada kecenderungan dalam diri kita untuk menghindar dari perbuatan mencuri atau menghidar terhadap lingkungan pencuri. Jika seseorang meyakini bahwa dermawan itu baik, maka mereka merespon positif terhadap para dermawan, dan bahkan mungkin ia akan menjadi dermawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, di atas terlihat bahwa antara sikap dan perilaku ada kesamaan.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, psikolog sosial, seperti Morgan dan King, Howard dan&lt;br /&gt;Kendler, serta Krech dkk., mengatakan bahwa antara sikap dan perilaku&lt;br /&gt;adalah konsisten. Apakah selalu bahwa sikap konsisten dengan perilaku?&lt;br /&gt;Seharusnya, sikap adalah konsisten dengan perilaku, akan tetapi karena&lt;br /&gt;banyaknya faktor yang mempengaruhi perilaku, maka dapat juga sikap&lt;br /&gt;tidak konsisten dengan perilaku. Dalam keadaan yang demikian terjadi&lt;br /&gt;adanya desonansi nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para psikolog, di antaranya Morgan dan King, Howard dan Kendler, Krech,&lt;br /&gt;Crutchfield dan Ballachey, mengatakan bahwa perilaku seseorang&lt;br /&gt;dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan hereditas. Faktor lingkungan&lt;br /&gt;yang mempengaruhi perilaku adalah beragam, di antaranya pendidikan,&lt;br /&gt;nilai dan budaya masyarakat, politik, dan sebagainya. Sedang faktor&lt;br /&gt;hereditas merupakan faktor bawaan seseorang yang berupa karunia&lt;br /&gt;pencipta alam semesta yang telah ada dalam diri manusia sejak lahir,&lt;br /&gt;yang banyak ditentukan oleh faktor genetik. Kedua faktor secara&lt;br /&gt;bersama-sama mempengaruhi perilaku manusia. Jika kita ingin menumbuhkan&lt;br /&gt;sikap, kita harus memadukan faktor bawaan berupa bakat dan faktor&lt;br /&gt;lingkungan pendidikan dan belajar. Pandangan ini sejalan dengan hukum&lt;br /&gt;konvergensi perkembangan yang menyeimbangkan antara faktor bawaan&lt;br /&gt;dengan faktor lingkungan, tanpa mengorbankan satu faktorpun (Syah,&lt;br /&gt;2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang pendidik menginginkan menumbuhkan sikap sasaran didik,&lt;br /&gt;seharusnya mengetahui bakat yang ada pada sasaran didik, keinginan&lt;br /&gt;sasaran didik, nilai dan pengetahuan yang seharusnya didapat sasaran&lt;br /&gt;didik, serta lingkungan lain yang kondusif bagi penumbuhan sikap&lt;br /&gt;mereka, termasuk lingkungan politik. Keadaan ini sulit dilakukan,&lt;br /&gt;tetapi harus diusahakan. Jika kita ingin pendidikan berkembang dan&lt;br /&gt;bermanfaat bagi masyarakat, maka kita tidak boleh diam. Apapun&lt;br /&gt;hasilnya, pendidik harus berusaha melakukan inovasi proses pendidikan.&lt;br /&gt;Perlu disadari, bahwa segala sesuatu membutuhkan proses yang cukup&lt;br /&gt;panjang untuk mencapai suatu keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diketahui oleh umum, bahwa sistem pendidikan kita masih&lt;br /&gt;bersandar pada prinsip, teori, dan konsep behavioristik. Konsep dan&lt;br /&gt;teori terbut jika diaplikasikan dalam pendididikan kejuruan dan&lt;br /&gt;profesi, sudah tidak relevan lagi. Model pendidikan klasikal, seperti&lt;br /&gt;yang sekarang ini banyak diterapkan, berangkat dari konsep&lt;br /&gt;behavioristik, sulit untuk menumbuhkan sikap wirausaha. Pada masa&lt;br /&gt;pembangunan, seperti terjadi di negara kita pada saat ini, sangat&lt;br /&gt;membutuhkan tenaga wirausahawan untuk mempercepat laju pertumbuhan&lt;br /&gt;ekonomi nasional. Dengan demikian, manakala kita masih mempertahankan&lt;br /&gt;model pendidikan behavioristik, kami yakin bahwa tidak akan mampu&lt;br /&gt;menumbuhkan wirausahawan yang menjadi pelaku pembangunan ekonomi&lt;br /&gt;nasional yang handal. Dengan demikian, perubahan sistem dan model&lt;br /&gt;pendidikan, khususnya dalam pendidikan bisnis, perlu dilakukan.&lt;br /&gt;Terutama mengarah pada pembelajaran kewirausahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen Sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, dalam berbagai referensi, sikap memiliki 3 komponen yakni:&lt;br /&gt;kognitif, afektif, dan kecenderungan tindakan (Morgan dan King, 1975;&lt;br /&gt;Krech dan Ballacy, 1963, Howard dan Kendler 1974, Gerungan, 2000).&lt;br /&gt;Komponen kognitif merupakan aspek sikap yang berkenaan dengan penilaian&lt;br /&gt;individu terhadap obyek atau subyek. Informasi yang masuk ke dalam otak&lt;br /&gt;manusia, melalui proses analisis, sintesis, dan evaluasi akan&lt;br /&gt;menghasilkan nilai baru yang akan diakomodasi atau diasimilasikan&lt;br /&gt;dengan pengetahuan yang telah ada di dalam otak manusia1. Nilai - nilai&lt;br /&gt;baru yang diyakini benar, baik, indah, dan sebagainya, pada akhirnya&lt;br /&gt;akan mempengaruhi emosi atau komponen afektif dari sikap individu. Oleh&lt;br /&gt;karena itu, komponen afektif dapat dikatakan sebagai perasaan (emosi)&lt;br /&gt;individu terhadap obyek atau subyek, yang sejalan dengan hasil&lt;br /&gt;penilaiannya. Sedang komponen kecenderungan bertindak berkenaan dengan&lt;br /&gt;keinginan individu untuk melakukan perbuatan sesuai dengan keyakinan&lt;br /&gt;dan keinginannya. Sikap seseorang terhadap suatu obyek atau subyek&lt;br /&gt;dapat positif atau negatif. Manifestasikan sikap terlihat dari&lt;br /&gt;tanggapan seseorang apakah ia menerima atau menolak, setuju atau tidak&lt;br /&gt;setuju terhadap obyek atau subyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komponen sikap berkaitan satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;Dari manapun kita memulai dalam analisis sikap, ketiga komponen tersebut tetap dalam ikatan satu sistem. Sikap individu sangat erat kaitannya dengan&lt;br /&gt;perilaku mereka. Jika faktor sikap telah mempengaruhi ataupun&lt;br /&gt;menumbuhkan sikap seseorang, maka antara sikap dan perilaku adalah&lt;br /&gt;konsisten, sebagaimana yang dikemukan oleh Krech dan Ballacy, Morgan&lt;br /&gt;King, dan Howard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak merupakan suatu kesatuan sistem, sehingga tidak dapat dilepas satu&lt;br /&gt;dengan lainnya. Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk&lt;br /&gt;sikap pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap seseorang seharusnya konsisten dengan perilaku. Seandainya sikap&lt;br /&gt;tidak konsisten dengan perilaku, mungkin ada faktor dari luar diri&lt;br /&gt;manusia yang membuat sikap dan perilaku tidak konsisten. Faktor&lt;br /&gt;tersebut adalah sistem nilai yang berada di masyarakat, diantaranya&lt;br /&gt;norma, politik, budaya, dan sebagainya. Dari penjelasan tersebut jelas&lt;br /&gt;bahwa pendidikan bukan semata-mata tanggung jawab lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;Seluruh masyarakat dan intansi terkait harus menunjang pelaksanaan&lt;br /&gt;pendidikan. Pendidikan haruslah diletakan pada kondisi dan situasi yang&lt;br /&gt;benar-benar kondusif bagi jalannya proses pendidikan. Dengan cara&lt;br /&gt;demikianlah, sebenarnya secara teoritis dan konseptual, tujuan&lt;br /&gt;pendidikan tercapai. Sebaliknya, jika masyarakat dan seluruh instansi&lt;br /&gt;politik dan pemerintahan tidak mernunjang, maka pendidikan akan&lt;br /&gt;mengalami kegagalan. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan merupakan&lt;br /&gt;tanggung jawab seluruh warga bangsa, dan harus ditunjang oleh komitmen&lt;br /&gt;politis dari seluruh warga bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: Ketiga komponen kognitif, afektif, dan kecenderungan bertindak secara bersama- sama membentuk sikap. Sikap secara konsisten mempengaruhi perilaku. Oleh karena itu, sikap seharusnya konsisten&lt;br /&gt;mempengaruhi perilaku.Jika antara sikap tidak konsisten dengan&lt;br /&gt;perilaku, maka terdapat sistem eksternal yang ikut mempengaruhi&lt;br /&gt;konsistensi antara sikap dan perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dapat pula diklasifikasikan menjadi sikap individu dan sikap&lt;br /&gt;sosial (Gerungan, 2000). Sikap sosial dinyatakan oleh cara-cara&lt;br /&gt;kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap obyek sosial, dan&lt;br /&gt;biasanya dinyatakan oleh sekelompok orang atau masyarakat. Sedang sikap&lt;br /&gt;individu, adalah sikap yang dimiliki dan dinyatakan oleh seseorang.&lt;br /&gt;Sikap seseorang pada akhirnya dapat membentuk sikap sosial, manakala&lt;br /&gt;ada seregaman sikap terhadap suatu obyek. Dalam konteks pemahasan ini,&lt;br /&gt;sikap yang dimaksud adalah sikap individual, mengingat pendidikan yang&lt;br /&gt;dihabahas dalam kajian ini menyangkut proses pendidikan secara&lt;br /&gt;individual, mengingat keinginan, kebutuhan, kemampuan, motivasi,&lt;br /&gt;sasaran didik sangat beragam. Untuk kajian lebih lanjut, periksa pada&lt;br /&gt;bahasan proses pendidikan bisnis di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan pengertian sikap yang dijelaskan di atas, dapat dipahami&lt;br /&gt;bahwa:&lt;br /&gt;1) sikap ditumbuhkan dan dipelajari sepanjang perkembangan orang&lt;br /&gt;yang bersangkutan dalam keterkaitannya dengan obyek tertentu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) sikap merupakan hasil belajar manusia, sehingga sikap dapat ditumbuhkan dan&lt;br /&gt;dikembangkan melalui proses belajar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) sikap selalu berhubungan dengan obyek, sehingga tidak berdiri sendiri,&lt;br /&gt;4) sikap dapat berhubungan dengan satu obyek, tetapi dapat pula berhubungan dengan sederet obyek sejenis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) sikap memiliki hubungan dengan aspek motivasi dan perasaan&lt;br /&gt;atau emosi (Gerungan, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui karakter sikap semacam ini&lt;br /&gt;sangat penting manakala kita akan membahas sikap secara cermat. Dari&lt;br /&gt;sifat ini dapat diketahui bahwa sikap dapat ditumbungkan dan&lt;br /&gt;dikembangkan, melalui proses pembelajaran siswa yang sesuai dengan&lt;br /&gt;motivasi, dan keinginan mereka. Demikian juga, sikap harus diarahkan&lt;br /&gt;pada suatu obyek tertentu, sehingga memudahkan mengarahkan belajar&lt;br /&gt;siswa pada sasaran belajar yang sesuai dengan minat dan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menumbuhkan dan Mengembangkan Sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaiman sikap dapat ditumbuhkan? Seperti di atas dijelaskan, bahwa&lt;br /&gt;sikap dapat ditumbuhkan dan dikembangkan melalui proses belajar. Dalam&lt;br /&gt;proses belajar tidak terlepas dari proses komunikasi dimana terjadi&lt;br /&gt;proses tranfer pengetahuan dan nilai. Jika sikap merupakan hasil&lt;br /&gt;belajar, maka kunci utama belajar sikap terletak pada proses kognisi&lt;br /&gt;dalam belajar siswa. Menurut Bloom, serendah apapun tingkatan proses&lt;br /&gt;kognisi siswa dapat mempengaruhi sikap (Munandar, 1999). Namun&lt;br /&gt;demikian, tingkatan kognisi yang rendah mungkin saja dapat mempengaruhi&lt;br /&gt;sikap, tetapi sangat lemah pengaruhnya dan sikap cenderung labil. Kami&lt;br /&gt;yakin, bahwa proses kognisi yang dapat menumbuhkan dan mengembangkan&lt;br /&gt;sikap secara signifikan, sejalan dengan taksonomi kognisi Bloom, adalah&lt;br /&gt;pada taraf analisis, sintesis, dan evaluasi. Pada taraf inilah&lt;br /&gt;memungkinkan sasaran didik memperoleh nilai-nilai kehidupan yang dapat&lt;br /&gt;menumbuhkan keyakinan yang merupakan kunci utama untuk menumbuhkan dan&lt;br /&gt;mengembangkan sikap. Melalui proses akomodasi dan asimilasi&lt;br /&gt;pengetahuan, pengalaman, dan nilai ke dalam otak sasaran didik, seperti&lt;br /&gt;pendapat Pieget, pada gilirannya akan menjadi referensi dalam&lt;br /&gt;menanggapi obyek atau subyek di lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang muncul, apakah semua informasi dapat mempengaruhi&lt;br /&gt;sikap? Tidak semua informasi dapat mempengaruhi sikap. Informasi yang&lt;br /&gt;dapat mempengaruhi sikap sangat tergantung pada isi, sumber, dan media&lt;br /&gt;informasi yang bersangkutan (Morgan dan King, 1974; Howard, 1975).&lt;br /&gt;Dilihat dari segi isi informasi, bahwa informasi yang menumbuhkan dan&lt;br /&gt;mengembangkan sikap adalah berisi pesan yang bersifat persuasif. Dalam&lt;br /&gt;pengertian, pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi haruslah&lt;br /&gt;memiliki kemampuan untuk mempengaruhi keyakinan sasaran didik, meskipun&lt;br /&gt;sebenarnya keyakinan tersebut akan didapat siswa sendiri melalui proses&lt;br /&gt;belajar. Seperti di atas telah disebutkan, bahwa untuk dapat memberikan&lt;br /&gt;pesan yang persuasif kepada sasaran didik haruslah dibawa pada obyek&lt;br /&gt;telaah melalui proses penganalisaan, pensintesisan, serta penilaian,&lt;br /&gt;yang dilakukan sasaran didik untuk memperoleh keyakinan. Langkah ini&lt;br /&gt;akan dapat berhasil manakala dilaksanaan secara individual, dan dibawa&lt;br /&gt;ke model belajar sambil bekerja yang selaras dengan motivasi, minat dan&lt;br /&gt;bakat sasaran didik. Dengan demikian, proses belajar-mengajar klasikal,&lt;br /&gt;misalkan dengan ceramah, efektivitas dalam menumbuhkan sikap perlu&lt;br /&gt;dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber informasi sangat berpengaruh pada penumbuhan sikap. Di samping&lt;br /&gt;informasi dari buku teks, mungkin juga dari fakta empirik, guru atau&lt;br /&gt;pendidik juga merupakan sumber belajar. Kualitas sumber informasi&lt;br /&gt;sangat berpengaruh pada penumbuhan keyakinan siswa. Karena itu kualitas&lt;br /&gt;informasi sangat menentukan perolehan pengalaman yang memandai, yang&lt;br /&gt;dibutuhkan untuk mengembangkan cakrawala pandang. Demikian juga fakta&lt;br /&gt;empirik, harus diberikan. Fakta empirik merupakan informasi sekaligus&lt;br /&gt;bahan belajar yang sangat berharga yang dapat dipelajari, dianalisis&lt;br /&gt;oleh siswa untuk memperoleh pengalaman dan untuk menambah keyakinan&lt;br /&gt;mereka. Di samping itu, guru juga memiliki peranan yang kuat dalam&lt;br /&gt;menumbuhkan sikap, karena gurulah yang berkomunikasi langsung dan&lt;br /&gt;sekaligus merupakan preferensi bagi siswa. Oleh karena itu, kualitas&lt;br /&gt;guru, baik dilihat dari kemampuan, keluasan wawasan, pengusaaan&lt;br /&gt;pengetahuan teoritis dan praktis diperlukan. Di sinilah peran guru&lt;br /&gt;sebagai fasilitator, inovator, motivator, dapat dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, dalam model belajar yang diharapkan di sini membutuhkan&lt;br /&gt;keragaman sumber informasi. Dengan sumber informasi yang beragam siswa&lt;br /&gt;dapat menentukan pilihan yang sesuai dengan minat, motivasi, serta&lt;br /&gt;bakat mereka. Dengan cara inilah, siswa dapat menemukan sendiri&lt;br /&gt;pengetahuan dan informasi yang akan mereka gunakan untuk penganalisaan&lt;br /&gt;situasi dan fakta untuk mendapatkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi&lt;br /&gt;hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tentang media, bahwa tidak setiap media informasi dapat&lt;br /&gt;mempengaruhi sikap siswa. Karena itu adalah mutlak bagi guru untuk&lt;br /&gt;mencari buku teks maupun sejenisnya yang dapat mempengaruhi keyakinan&lt;br /&gt;siswa. Banyak buku teks yang isinya terlihat diam dan menjemukan. Tidak&lt;br /&gt;menumbuhkan gairah keingin tahuan, dan tidak dapat mempersuai pembaca.&lt;br /&gt;Isi buku teks hanyalah suatu onggokan konsep dan teori yang boleh&lt;br /&gt;dikata, kurang ada manfaatnya bagi hidup. Oleh karena itu, media&lt;br /&gt;informasi haruslah di cari oleh guru yang benar-benar bisa menumbuhkan&lt;br /&gt;gairah keingin tahuan siswa dan bersifat persuasif. Dengan demikian, di&lt;br /&gt;samping buku teks, media informasi lain harus dicari. Banyak buku-buku&lt;br /&gt;fiksi, biografi (misalkan cash-flow Quadrant, chicken shop, Business&lt;br /&gt;Combat), ceritera persaingan Pepsi-Colla dengan Coca-Colla, Raja&lt;br /&gt;Komputer AS Bill Gates, bagaimana perusahaan multinasional dapat&lt;br /&gt;mempengaruhi perekonomian dunia, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin juga hasil-hasil penelitian yang dipublikasikan dalam internet, jurnal&lt;br /&gt;ilmiah, dan sebagainya dapat dimanfaatkan. Kreativitas guru dalam&lt;br /&gt;menumbuhkan keyakinanan siswa sehingga sikap dapat dibentuk seperti&lt;br /&gt;yang harapan siswa sangatlah dibutuhkan, terlebih-lebih lagi jika&lt;br /&gt;dikaitkan dengan usaha untuk menumbuhkan motivasi dan keinginan yang&lt;br /&gt;kuat untuk berkembang, ulet, berani mengambil risiko, selalu&lt;br /&gt;mengansipasi perubahan, dan sebagainya. Orientasi guru tidak lagi&lt;br /&gt;berorientasi pada apa yang diharapkan guru, penumpukan konsep dan&lt;br /&gt;materi yang berlebihan yang tidak ada manfaatnya bagi hidup, tetapi&lt;br /&gt;harus beorientasi pada apa yang siswa harapkan dan pengetahuan yang&lt;br /&gt;benar-benar bermanfaat bagi hidup siswa pada masa mendatang. Dengan&lt;br /&gt;cara inilah kemungkinan besar pendidikan dapat membawa ouputnya yang&lt;br /&gt;benar-benar memiliki keunggulan, inovatif, jika terjun dalam dunia&lt;br /&gt;kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Sikap Ditumbuhkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap dapat tumbuh selama manusia hidup. Sepanjang hidupnya, manusia belajar tidak pernah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses akomodasi dan asimilasi pengetahuan, dan pengalaman, berlangsung&lt;br /&gt;sepanjang hidup manusia. Dalam proses yang panjang inilah nilai-nilai&lt;br /&gt;hidup didapatkan oleh manusia, yang kemungkinan besar akan dapat&lt;br /&gt;menumbuhkan sikap mereka terhadap subyek atau obyek. Periode kritis&lt;br /&gt;penumbuhan seseorang terjadi pada usia 12 tahun sampai 30 tahun (Sear&lt;br /&gt;dalam Morgan dan King, 1974). Jika pendapat Sear ini dianut, maka&lt;br /&gt;penumbuhan sikap yang paling tepat ketika usia Sekolah Lanjutan Tingkat&lt;br /&gt;Pertama (SLTP), sampai dengan Perguruan Tinggi (PT), setelah itu sikap&lt;br /&gt;akan tumbuh melalui belajar dan pengalaman pribadi masing-masing. Perlu&lt;br /&gt;dipahami, bahwa dalam hidup belajar lebih banyak ditentukan oleh diri&lt;br /&gt;sendiri dari pada di bangku sekolah. Namun demikian, sudah menjadi&lt;br /&gt;kewajiban bagi sekolah untuk menumbuhkan sikap dasar yang bermanfaat&lt;br /&gt;bagi hidup sasaran didik. Selanjutnya, di luar bangku sekolah, sikap&lt;br /&gt;akan dikembangkan sendiri oleh yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut Sear mengatakan, bahwa setelah usia 30 tahun sikap relatif&lt;br /&gt;permanen sehingga sulit berubah (dalam Morgan dan King, 1974). Dari&lt;br /&gt;sini terlihat betapa pentingnya peletakan sikap dasar di sekolah,&lt;br /&gt;mengingat bahwa usia pembentukan sikap dasar ketika siswa ada pada SLTP&lt;br /&gt;sampai dengan PT. Oleh karena itu, jika kita sadar akan tanggung&lt;br /&gt;sebagai pendidik, dan menyadari usia yang memungkinkan sikap dapat&lt;br /&gt;ditumbuhkan, maka sudah seharusnya kita tidak menyia-nyiakan waktu&lt;br /&gt;tersebut untuk menumbuhkan sikap dasar siswa yang benar-benar ada&lt;br /&gt;manfaatnya bagi hidupnya maupun bagi bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala Menumbuhkan Sikap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala penumbuhan sikap terjadi ketika ada benturan nilai yang&lt;br /&gt;diyakini seseorang dengan nilai yang berkembang di masyarakat. Semua&lt;br /&gt;institusi dalam masyarakat harus dapat menunjang pendidikan. Artinya,&lt;br /&gt;masyarakat secara menyeluruh harus memberikan dukungan terhadap proses&lt;br /&gt;pendidikan bisnis. Akan tetapi, dalam kenyataannya, di negara yang&lt;br /&gt;sedang berkembang seperti Indonesia, pendidikan bisnis mungkin&lt;br /&gt;mengalami hambatan sosio-budaya, seperti yang dikemukan oleh Jinghan&lt;br /&gt;(1999). Bahkan banyak ahli ekonomi yang mengatakan bahwa di negara&lt;br /&gt;sedang berkembang memiliki ciri yang mendua, di samping menganut faham&lt;br /&gt;ekonomi liberal juga menganut faham sosial (ekonomi campuran). Sifat&lt;br /&gt;mendua inilah yang merupakan kedala bagi kemajuan ekonomi negara dunia&lt;br /&gt;ketiga (Todaro, 1997; Jinghan, 1999). Mungkin sifat mendua inilah yang&lt;br /&gt;merupakan salah satu kendala bagi penumbuhan sikap wirausaha di&lt;br /&gt;Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai sosio-budaya feodal yang diwarisi dari penjajahan Belanda sangat&lt;br /&gt;kita rasakan pengaruhnya pada orang tua dan senior kita. Mereka sangat&lt;br /&gt;menyukai kemapanan dan alergi terhadap perubahan. Mereka lupa bahwa&lt;br /&gt;tanpa perubahan tidak akan ada perkembangan. Semuanya akan terlihat&lt;br /&gt;statis. Kondisi semacam ini telah diungkap oleh Todaro bahwa budaya&lt;br /&gt;dari penjajahan negara-negara Eropa sangat mempengaruhi pembangunan di&lt;br /&gt;negara dunia ke tiga, termasuk Indonesia (Todaro, 1977). Keinginan&lt;br /&gt;orang tua agar anak menjadi pegawai negeri merupakan bukti konkrit&lt;br /&gt;bahwa budaya feodal yang merupakan warisan dari penjajah sebagai suatu&lt;br /&gt;kendala perkembangan bangsa kita. Mungkin saja anak memiliki jiwa dan&lt;br /&gt;sikap positif terhadap wirausaha, akan tetapi mungkin mengalami&lt;br /&gt;benturan nilai dengan orang tua, sehingga anak terpaksa menjadi&lt;br /&gt;pengawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES PENDIDIKAN WIRAUSAHAWAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendidikan tidak lepas dengan peroses pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi belajar siswa (Gagne dan Briggs, 1974). Dari batasan ini tampak bahwa proses dalam belajar dan&lt;br /&gt;pembelajaran sasaran utamanya adalah pada proses belajar sasaran didik&lt;br /&gt;atau siswa. Demikian juga dalam Quantum Learning, maupun Revolusi Cara&lt;br /&gt;Belajar, dalam pendidikan harus mengutamakan belajar siswa secara&lt;br /&gt;aktif. Degeng (2001) juga mengatakan bahwa sasaran pendidikan adalah&lt;br /&gt;belajar siswa, bukan semata-mata pada hasil belajar siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai pendapat di atas terlihat bahwa seharusnya dalam proses&lt;br /&gt;belajar dan pembelajaran yang memiliki peran aktif adalah siswa, bukan&lt;br /&gt;guru. Guru sebagai fasilitator berperan untuk menciptakan suasana dan&lt;br /&gt;lingkungan sekitar yang dapat menunjang belajar siswa sesuai dengan&lt;br /&gt;minat, bakat, dan kebutuhannya. Dengan kata lain, dalam berbagai&lt;br /&gt;referensi yang sekarang sedang ramai dibicarakan, adalah proses&lt;br /&gt;pembejaran individual, atau individual learning. Mengapa demikian?&lt;br /&gt;Siswa memiliki minat, bakat, dan kebutuhan yang berbeda. Sudah&lt;br /&gt;sehrusnya faktor ini diperhatikan dalam proses pendidikan. Oleh karena&lt;br /&gt;itu, model pembelajaran klasikal sudah tidak cocok lagi. Pembelajaran&lt;br /&gt;harus terfokus pada belajar individual cocok (Porter dan Hernacki,&lt;br /&gt;2002; Dreden dan Vos, 2001). Demikian pula dalam pendidikan binis&lt;br /&gt;belajar individual perlu dilaksanakan. Dalam pendidikan wirausahawan&lt;br /&gt;ada beberapa langkah penting yang perlu untuk dilakukan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat, Motivasi, dan Tujuan Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui Minat, Motivasi, dan Tujuan Belajar Siswa&lt;br /&gt;Seperti di atas telah disinggung, bahwa dalam proses pendidikan kita harus&lt;br /&gt;memiliki pengertian bahwa kita melayani keinginan dan kebutuhan siswa.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam proses belajar-pembelajaran harus memiliki&lt;br /&gt;karakteristik untuk melayani keinginan dan kebutuhan siswa, bukan&lt;br /&gt;transformasi pengetahuan menurut selera sekolah maupun pendidik. Jika&lt;br /&gt;materi yang dipelajari siswa relevan dengan minat, motivasi, dan tujuan&lt;br /&gt;belajar mereka, maka akan dapat menumbuhkan gairah belajar, kreativitas&lt;br /&gt;berfikir, dan karya siswa. Meskipun hasil belajar bukan merupakan&lt;br /&gt;sasaran utama pendidikan seperti yang dikatakan Degeng, sudah&lt;br /&gt;seharusnya bahwa keberhasilan belajar diketahui. Oleh karena itu,&lt;br /&gt;sasaran dari langkah pertama adalah hasil belajar siswa, yakni dapat&lt;br /&gt;menjadi pribadi yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-6006353587784224895?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/6006353587784224895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=6006353587784224895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6006353587784224895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6006353587784224895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/pengertian-sikap-dan-perilaku.html' title='Pengertian Sikap dan Perilaku'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SK6rnjXbbVI/AAAAAAAAACE/WT57fS3tb10/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-2702381494139266260</id><published>2008-08-22T19:37:00.004+08:00</published><updated>2008-08-22T19:48:23.587+08:00</updated><title type='text'>Musik dan Otak (kognitif)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SK6mOKQBG7I/AAAAAAAAAB8/wRKhuRhjcac/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SK6mOKQBG7I/AAAAAAAAAB8/wRKhuRhjcac/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237306178878380978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi . Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (emotional intelligent). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori Neuron mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan otak kiri itu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat terhadap ruang (spatial), arah dan waktu. Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan tempo dapat bertambah melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga diperkuat melalui aktivitas gerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gallahue, (199  mengatakan, kemampuan-kemampuan seperti ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.&lt;br /&gt;Hasil penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu juga, Gordon Shaw (1996) mengatakan kecakapan dalam bidang yakni matematika, logika, bahasa, musik dan emosi bisa dilatih sejak kanak-kanak melalui musik. Dengan melakukan penelitian membagi 2 kelompok yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen melalui pendidikan musik sehingga sirkuit pengatur kemampuan matematika menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik berhasil merangsang pola pikir dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks. Didukung pula oleh Martin Gardiner (1996) dalam Goleman (1995) dari hasil penelitiannya mengatakan seni dan musik dapat membuat para siswa lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Jadi, ada hubungan logis antara musik dan matematika, karena keduanya menyangkut skala yang naik turun, yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daryono Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo, melakukan penelitian (1981) tentang kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bawha pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanannya. Bila mereka mampu menggunakan fungsi kedua belahan otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implementasi dari penelitian tersebut, pendidikan kesenian sewaktu di SD mempengaruhi keberhasilan studi pada pendidikan berikutnya yaitu di SMP, dan begitu juga dengan pendidikan kesenian di SMP kan mempengaruhi keberhasilan studi pada masa di SMA. Dan kesenian di SMA, mau tidak mau menjadii factor penentu dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;Sternberg dan Salovery (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri, yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul, dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara wajar. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesali di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan akan rasa indah timbul melalui pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati musik. Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengerahkan kepribadian dan meningkatkan kualitas hidup. Seseorang memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka maka ia akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap dan membentuk kepribadian yang tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar. Seperti apa yang kita cita-citakan dapat diraih dan mengisyaratkan adanya suatu perjalanan yang harus ditempuh dari suatu posisi di mana kita berada ke titik pencapaian kita dalam kurun waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan membina hubungan bersosialisasi sama artinya dengan kemampuan mengelola emosi orang lain. Evelyn Pitcer dalam Kartini (1982) mengatakan musik membantu remaja untuk mengerti orang lain dan memberikan kesempatan dalam pergaulan sosial dan perkembangan terhadap emosional mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja, merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain untuk memanusiakan dirinya. Remaja ingin dicintai, ingin diakui, dan dihargai. Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendapatkan tempat dalam kelompoknya. Jelas bahwa individualitas dan sosialitas merupakan unsur-unsur yang komplementer, saling mengisi dan melengkapi dalam eksistensi remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan emosional perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensi anak dapat berkembang secara lebih optimal.&lt;br /&gt;Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal “Emotional Intelligences (EQ)”, memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Siegel (1999) ahli perkembangan otak, mengatakan bahwa musik dapat berperan dalam proses pematangan hemisfer kanan otak, walaupun dapat berpengaruh ke hemisfer sebelah kiri, oleh karena adanya cross-over dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh hemisfer otak kanan. Artinya, hemisfer ini memainkan peran besar dalam proses perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehalusan dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain, menghayati pengalaman kehidupan dengan “perasaan”, adalah fungsi otak kanan, sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran (blending antara otak kanan dan kiri itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang inherent terdapat pada setiap manusia. Untuk dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campbell 2001 dalam bukunya efek Mozart mengatakan musik romantik (Schubert, Schuman, Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan simpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik digambarkan sebagai salah satu “bentuk murni” ekspresi emosi. Musik mengandung berbagai contour, spacing, variasi intensitas dan modulasi bunyi yang luas, sesuai dengan komponen-komponen emosi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Fierman_gaul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-2702381494139266260?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/2702381494139266260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=2702381494139266260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/2702381494139266260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/2702381494139266260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/musik-dan-otak-kognitif.html' title='Musik dan Otak (kognitif)'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SK6mOKQBG7I/AAAAAAAAAB8/wRKhuRhjcac/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-3695257821618061139</id><published>2008-08-18T13:09:00.002+08:00</published><updated>2008-08-22T19:47:57.780+08:00</updated><title type='text'>Gangguan Kecemasan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkEs8j7QZI/AAAAAAAAABw/fe4Cyd7WuRU/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkEs8j7QZI/AAAAAAAAABw/fe4Cyd7WuRU/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235721212012478866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gangguan cemas diartikan sebagai perasaan khawatir yang tidak nyata, tidak masuk akal, tidak cocok, yang berlangsung terus (intens) atas dasar prinsip yang terjadi (manifes) dan nyata (dirasakan). Biasanya ditandai dengan : rasa ketakutan yang difuse, tidak menyenangkan, tidak jelas, seringkali disertai gejala otonom. Menurut Davidson &amp;amp; neale kecemasan ditandai dengan munculnya perasaan takut, kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Respon fisik dari gangguan kecemasan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;1. Perut seakan diikat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;2. Jantung berdebar lebih keras&lt;/li&gt;&lt;li&gt;3. Berkeringat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;4. Nafas tersengal&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Berbagai Jenis Gangguan Cemas&lt;br /&gt;1. Fobia&lt;br /&gt;Fobia adalah penolakan berdasar ketakutan terhadap benda atau situasi yang dihadapi, yang sebetulnya tidak berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gangguan Panik&lt;br /&gt;Gangguan panic memiliki karakteristik terjadinya serangan panic (panic attack) yang spontan dan tidak terduga. Serangan panic adalah kecemasan atau ketakutan yang sangat intens dalam waktu yang relative singkat (biasanya kurang dari 1 jam), dan disertai symptom somatic seperti keringat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gangguan Kecemasan Menyeluruhmum (GAD)&lt;br /&gt;GAD diartikan sebagai kekhawatiran yang berlebihan, yang berlangsung paling sedikit 6 bulan mengenai beberapa kondisi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Gangguan Obsesif Kompulsif&lt;br /&gt;Berupa pikiran yang terus berulang tanpa bisa dikendalikan (obsesif) dan tindakan berulang yang tidak bisa dikendalikan untuk menjalankan pikiran obsesif (kompulsif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gangguan Stress pasca Trauma&lt;br /&gt;Gangguan stress pasca trauma terjadi akibat traumatic atau bencana yang tingkatnya sangat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Fierman_gaul&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-3695257821618061139?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/3695257821618061139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=3695257821618061139' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/3695257821618061139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/3695257821618061139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/gangguan-kecemasan.html' title='Gangguan Kecemasan'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkEs8j7QZI/AAAAAAAAABw/fe4Cyd7WuRU/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-3325200248880114812</id><published>2008-08-18T13:01:00.004+08:00</published><updated>2008-08-22T19:47:37.721+08:00</updated><title type='text'>Paranoid</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkDC9tQkPI/AAAAAAAAABo/AWUHmUcOiPU/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkDC9tQkPI/AAAAAAAAABo/AWUHmUcOiPU/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235719391253926130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Individu dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai dengan adanya kecurigaan dan ketidakpercayaan yang sangat kuat kepada orang-orang di lingkungn sekitarnya. Mereka seringkali sangat sensitive, mudah marah dan menunjukkan sikap bermusuhan. Salah satu factor penting dalam gangguan kepribadian paranoid adalah adanya kecendrungan yang tidak beralasan untuk menganggap perilaku orang lain merendahkan dan mengancam diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sangat curiga, selalu siap terhadap bahaya dan gangguan yang potensial. Merasa curiga pada hampir semua situasi dengan hampir semua orang, biasanya tanpa alasan yang tepat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak percaya pada orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mereka menolak tanggung jawab terhadap kesalahan mereka dan menempatkan kesalahan pada orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalau dikritik/ dikonfrontasi ~ bermusuhan (menganggap dimusuhi).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meskipun ada yang sukses dalam pekerjaan mereka, tetapi kehidupan emosionalnya terisolasi dan tidak leluasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mereka tidak mencari bantuan karena tidak merasakan sifat problemnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teori-teori dan Perlakuan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;1. Teori Psikodinamika&lt;br /&gt;Gangguan ini merupakan mekanisme pertahanan ego berupa proyeksi, yaitu orang tersebut melihat orang lainlah yang mempunyai motif merusak dan negative, bukan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori Kognitif Behavioral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganggap penderita gangguan ini, sebagai orang yang menderita asumsi yang salah tentang dunia. Mereka tidak dapat membedakan antara orang lain mana yang membahayakan, oleh karena itu mereka harus selalu waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perlakuan secara Kognitif Behavioral&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi asumsi salah klien dalam suasana yang bertujuan membentuk rasa percaya. Berusaha menaikkan perasaan kemampuan diri, hingga klien merasa dapat menangani situasi tanpa sikap pertahanan dan waspada. Menaikkan kesadaran klien mengenai lain-lain pandangan dan menolong klien untuk mengembangkan pendekatan lebih asertif terhadap konflik dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Fierman_gaul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-3325200248880114812?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/3325200248880114812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=3325200248880114812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/3325200248880114812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/3325200248880114812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/individu-dengan-gangguan-kepribadian.html' title='Paranoid'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkDC9tQkPI/AAAAAAAAABo/AWUHmUcOiPU/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-7661764452415548746</id><published>2008-08-18T12:52:00.003+08:00</published><updated>2008-08-18T12:57:31.528+08:00</updated><title type='text'>Free Will...... "Sebuah Kisah Inspiratif"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkAxqROJsI/AAAAAAAAABg/4IuKjYE64-Y/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkAxqROJsI/AAAAAAAAABg/4IuKjYE64-Y/s200/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235716894955022018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Letto : My Liberty, good bye…&lt;br /&gt;Queen : I Want to break free….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan dibawah ini adalah kajian singkat berbagai pemikiran, mimpi, kebutuhan dan kehendak akan kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dilahirkan dalam keadaan yang tidak bebas. Banyak faktor determinis yang menyebabkan manusia tersebut tidak bebas. Determinisme biologis ( terkusus hereditas), lingkungan, ruang dan waktu, serta dialektika manusia terbentuk sedemikian rupa dalam konstruk peradaan. Oleh karena itu impian akan kebebasan (freedom) adalah motif laten yang muncul melampaui perbedaan bangsa, suku, agama, kebudayaan, dan primordialisme.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kehendak untuk kebebasan itu sendiri, oleh Erich Fromm telah dijadikan sebagai motif yang mendasari segala perilaku manusia. Sebagai salah seorang pakar psikologi paling berpengaruh dia abad XX, Fromm mendasarkan ide tentang kebebasan sebagai bentuk usaha, karena sejak dilahirkan, manusia telah terkekang dengan berbagai kebutuhan fisiologis dan sosial. Bertolak dari itulah itulah Fromm mengawinkan pandangan Sigmund Freud (materialis determinis) dan Karl Marx (materialis dialektis) untuk kemudian merumuskan ide tentang kebebasannya.&lt;br /&gt;Freud mengemukakan ide bawasannya manusia bukanlah makhuk yang bebas. Karakter seseorang sangat ditentukan oleh peristiwa – peristiwa masa lalu yang secara psikologis sangat mempengaruhi pembentukan karakter, terutama pada masa perkembangan determinis atau secara umum lebih dikenal sebagai periode golden age. Saking determinannya usia golden age ini, hingga Freud pernah berujar bahwa “Apa yang terjadi dengan anda hari ini, akan menentukan siapa anda di masa depan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, menurut Freud Insting juga factor yang sangat determinan. Insting, sebagai sumber energi psikis, secara kuantitatif mengumpulkan ketidak seimbangan pada proses fisiologis (haus, lapar, sex, istirahat/ weteng lang ngisore weteng) untuk kemudian diubah menjaadi energi psikis. Energi ini digunakan sebagai “bahan bakar” untuk memenuhi dorongan – dorongan fisiologis tadi dan menyingkirkan hal – hal penghalang dalam usaha pemenuhan kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, Para kritikus Freud (kiri Freud) memandang teorinya sebagai materialis-determinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Marx, menjadi inspirator lainnya, mengemukakan determinisme sosial sebagai pembatas gerak manusia. Apa dan bagaimana seseorang, merupakan refleksi dari masyarakat tempatnya hidup dan berkembang. Pada abad pertengahan manusia menyandarkan hidup pada rantai eksistensi. Di zaman itu, anak petani akan melanjutkan takdirnya dengan menjadi seorang petani (seperti orang tuanya). Juga, jika ayahnya adalah raja, maka kelak dia akan menjadi penerus tahta kerajaan. Perempuan juga tidak luput dari rantai eksistensi. Pada abad pertengahan ini, peran bagi seorang perempuan sangatlah terbatas.&lt;br /&gt;Betapa menyesakkan melihat kembali kehidupan pada abad pertengahan yang sederhana tapi berat seperti ini. Belum lagi kedatangan modernisasi yang lebih banyak mengartikan manusia sebagai konsumen dan pekerja. Ini menggambarkan bahwasannya manusia tidak bisa lepas dari struktur-struktur sosial masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari pemikiran kedua tokoh tersebut -bahwasannya manusia adalah makhluk yang tidak bebas, Fromm mencetuskan ide tentang kebebasannya. Kebebasan manusia akan diperoleh apabila telah melampaui determinisme Freud dan Marx. Fromm menaruh apresiasi yang tinggi terhadap manusia yang selalu berjuang tanpa henti, sampai akhir untuk mancari dan mewujudkan kebebasannya. Kebebasan yang lebih bersifat pribadi. Tetapi sekali lagi Fromm pernah bertanya, ”Manusia mungkin bisa bebas tetapi untuk apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pandangan eksistensial-humanistik, Maslow menggambarkan konsep kebebasan lebih maju dari Fromm. Dalam hierarki kebutuhan maslow, kebebasan berada dalam tingkatan harga diri (Esteem). Jadi harga diri adalah konsekuensi logis ketika seseorang telah memenuhi kebutuhan yang lebih mendasar seperti fisiologi, rasa aman, cinta dan saling percaya. Harga diri, dalam konsep Maslow terbentuk dari konstruk – konstruk kebebasan disamping rasa percaya diri, kompetensi, kesuksesan, independensi (kebebasan) dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kebutuhan - kebutuhan pada tingkat sebelumnya (fisiologis, rasa aman, cinta dan saling percaya, esteem) telah terpenuhi, maka menusia bisa dikatakan telah meraih kebebasnnya. Tetapi Kemudian, di dalam kebebasannya ini seseorang hendak melakukan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maslow tidak berhenti sampai disini, ketika esteem (kebebasan) telah dipenuhi, maka seseorang telah sampai pada tingkatan kebutuhan yang paling tinggi, yaitu aktualisasi diri (meta need). Secara mudah kebutuhan ini adalah upaya ”unik” manusia untuk terus-menerus mewujudkan potensi – potensi yang ada dan menjadi diri sendiri sepenuhnya. Potensi tersebut diasah dan diaktualisasikan dengan baik sehingga menghadirkan manfaat bagi semua. Aktualisasi diri tidak dapat diukur dari sejumlah materi, uang, atau apapun yang dianggap pantas untuk menggantikannya. Mengukur aktualisasi diri adalah dari kebahagiaan (kebutuhan kepuasan batiniah) yang tercipta dari usahanya tersebut. Jadi puncak dari aktualisasi diri adalah kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari sini kita dapat memahami bahwasannya kebahagiaan adalah keadaan yang lebih tinggi dari kebebasan. Bisa juga diartikan bahwa kebahagiaan adalah tujuan dari kebebasan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, selama menuliskan teori psikologi eksistensial-humanistiknya, Maslow menyimpulkan bahwa humanistik bukan merupakan akhir, tetapi adalah suatu proses/transisi menuju tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu Psikologi Transpersonal. Trans (melampaui) dan personal (pribadi), yaitu mazhab Psikologi yang membahas manusia tak hanya sebagai pribadi saja. Lebih dari itu, Transpersonal juga membahas transedensi menusia dalam konstelasi alam semesta, tingkat kesadaran yang lebih tinggi (intuisi), dan pengalaman mistis sebagai pengalaman spiritual manusia sebagai makhluk ciptaan dari Dzat yang lebih tinggi (Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas kemanakah pencarian jejak kebebasan tersebut dilanjutkan, penulis ingin memulai dari narasi modernisme. Dalam perspektif historis, prinsip materialisme telah membangkitkan semangat penemuan ilmu-ilmu modern, dengan penemuan dan penciptaan teknologi modern, sesungguhnya banyak berawal dari sebuah asumsi awal bahwa keseluruhan kenyataan obyektif yang secara empiric terjadi harus dapat dijelaskan melalui pendekatan mekanik dan hukum – hukum fisik. Melalui pendekatan – pendekatan tersebut, maka kejadian – kejadian dan perubahan –perubahan di dunia yang selama ini belum bisa dijelaskan, pada akhirnya bisa dipaparkan melalui bukti – bukti empiris, logis dan ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan utama dalam pendekatan ini adalah adanya keterputusan manusia dengan nilai – nilai transendental (adi-kodrati), karena dunia hanya dipahami sebagai suatu materi atau benda, yang tidak mempunyai hubungan dengan kekuatan – kekuatan gaib di luar dunia. Keterputusan tersebut menjadi awal keterpisahan antara (aspek kognisi) manusia dengan kebenaran agama. Agama , karena berada diluar batas – batas empiris, menjadi materi yang jauh dari jangkauan kebenaran pengetahuan manusia, karena tidak teruji secara empiris. Kritik atas pendekatan modern yang empiris-logis-ilmiah ini adalah adanya keterputusan manusia dengan Tuhan, juga karena tidaklah mungkin manusia dapat selalu menemukan kategori kebenaran melalui eksperimen empiris dengan panca inderanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peradaban seperti inilah uang menjadi variabel ke”bebas”an yang digunakan untuk mengukur tingkat kebahagiaan seseorang. Kebebasan diukur dari kepemilikan materi berdasar ”rekomendasi-rekomendasi” kapitalis lewat teknik pemasaran dan kepiawaiannya menciptakan ”panggung impian” dalam pikiran seseorang hingga berakhir pada kebahagiaan semu.&lt;br /&gt;Dari teori ”energi dan frekuensi” a la Cak Emha, mengemukakan bahwa pada saatnya, manusia akan sampai pad titik jenuh pada pencarian kebahagiaan eksternal (materi). Imperialisme materi ini akan mencapai titik kulminasi dan menyadarkan bahwasannya bahwasannya manusia bukanlah makhluk berdimensi materi saja, tetapi juga dimensi2 spiritual. dari sini antitesis terjadi, seseorang akan mencoba mencari kebahagiaan internal yang tak lain adalah cinta yang transenden. Hal ini diyakini jauh lebih memenuhi kebutuhan manusia secara utuh dan saling melengkapi dengan kebahagiaan eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melanjutkan aksioma tentang kebahagiaan internal ini, sejak lebih dari 800 tahun yang lalu para Sufi dari Arab, persia, Turki dan sekitarnya telah menggali sebuah konsep kebahagiaan internal. Kebahagiaan ini dianggap bebas nilai, artinya, karena dari dalam ”hati”, siapa saja dapat meraihnya tanpa imperialisme materi. Dalam kajian psikologi sufi, pencapaian kebahagiaan mempunyai metode yang khas yaitu Freedom from the Self. Artinya, dualisme ”aku” (self) dan ”engkau”(realitas universal/ Tuhan, Haqq) menyebabkan keterasingan pada seseorang. Perasaan terasing ini mendorong berbagai hasrat, keinginan dan juga penyakit hati (psikis -pen). Selama seseorang masih perperangkap dalam dikotomi ”aku” dan ”engkau” Ini menjadikan manusia tidak bebas. Jalan yang ditempuh para sufi adalah menghilangkan ke”aku”an dan menyatu dengan ”engkau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Yasid pernah mendeskripsikan tentang keinginannya terbebas dari ”aku” dan menyatu dengan ”engkau” sebagai berikut :&lt;br /&gt;”Di setiap Ia menawariku sebuah kerajaan, tetapi aku menolaknya. Tuhan berkata padaku ’Abu yasid, apa yang kamu inginkan?’ aku menjawab: aku ingin tak punya keinginan...”&lt;br /&gt;Para sufi merasa bahwa nafas hidup pemberian Tuhan kepada manusia merupakan potensi untuk menjalin hubungan dengan yang dicintainya dan mencapai kesatuan bersama. Kematangan dan kebebasan manusia dapat dicapai dengan memenuhi siklus evolusi dan kembali ke asalnya, yaitu realitas universal (Tuhan, Haqq).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-7661764452415548746?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/7661764452415548746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=7661764452415548746' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/7661764452415548746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/7661764452415548746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/free-will-sebuah-kisah-inspiratif.html' title='Free Will...... &quot;Sebuah Kisah Inspiratif&quot;'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKkAxqROJsI/AAAAAAAAABg/4IuKjYE64-Y/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-5934930490586588707</id><published>2008-08-18T12:42:00.003+08:00</published><updated>2008-08-22T19:47:16.269+08:00</updated><title type='text'>INTUISI 2008 “Membentuk Insan Psikologi Yang Berkepribadian &amp; Kreatif”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKj_O8e4c0I/AAAAAAAAABY/WYXqRO_9bUo/s1600-h/finna_outbound.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKj_O8e4c0I/AAAAAAAAABY/WYXqRO_9bUo/s200/finna_outbound.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5235715199037109058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;INTUISI merupakan sarana menjalin komunukasi antar mahasiswa Psikologi terutama bagi mahasiswa baru Psikologi Universitas Negeri Semarang. INTUISI diharapkan menjadi awal dari semakin kuatnya solidaritas mahasiswa Psikologi UNNES yang telah terjalin selama ini antara junior dan senior. INTUISI sebagai sarana komunikasi juga merupakan upaya untuk membentuk pribadi mahasiswa Psikologi UNNES sebagai pribadi yang menjunjung tinggi profesionalisme sebagai insan akademik, tanggung jawab dan juga pengembangan kepedulian dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;TUJUAN&lt;br /&gt;Tujuan dari intuisi psikologi 2008 ini adalah mengembangkan sumber daya yang kreatif, inovatif dan dinamis dalam banyak hal. Dan menjalin persahabatan dan menciptakan rasa kekeluargaan di antara mahasiswa baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASARAN&lt;br /&gt;Mahasiswa baru Psikologi Universitas Negeri Semarang 2008&lt;br /&gt;ACARA&lt;br /&gt;Rangkaian acara dalam Intuisi 2008, meliputi:&lt;br /&gt;Materi&lt;br /&gt;Pengenalan Jurusan&lt;br /&gt;Simulasi&lt;br /&gt;Ramah tamah&lt;br /&gt;Game, outbond &amp;amp; keakraban.&lt;br /&gt;PELAKSANAAN&lt;br /&gt;Hari/ tanggal : Sabtu - Minggu, 30 - 31 Agustus 2008&lt;br /&gt;Waktu : 06.00 - selesai&lt;br /&gt;Tempat : Hotel Kartika Wisata, Kopeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAT&lt;br /&gt;1. Peserta adalah mahasiswa baru Psikologi FIP UNNES.&lt;br /&gt;2. Membayar kontribusi peserta sebesar Rp 140.000,-.&lt;br /&gt;3. Membawa perlengkapan berupa : pakaian pribadi, jaket, obat pribadi, makanan kecil dan perlengkapan lain sebagai penugasan.&lt;br /&gt;4. Membawa foto berwarna ukuran 3X4 sebanyak 2 lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTRIBUSI PESERTA&lt;br /&gt;Kaos INTUISI’08        Rp 35.000,-&lt;br /&gt;Penginapan                   Rp 37.000,-&lt;br /&gt;Transportasi                 Rp 25.000,-&lt;br /&gt;Konsumsi                      Rp 40.000,-&lt;br /&gt;Sertifikat                      Rp 3.000,- +&lt;br /&gt;TOTAL                                               Rp 140.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Besar harapan kami kegatan ini dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat karenanya kami mengharapkan partisipasi berbagai pihak demi suksesnya kegiatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Himapsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-5934930490586588707?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/5934930490586588707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=5934930490586588707' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5934930490586588707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5934930490586588707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/08/intuisi-2008-membentuk-insan-psikologi.html' title='INTUISI 2008 “Membentuk Insan Psikologi Yang Berkepribadian &amp; Kreatif”'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SKj_O8e4c0I/AAAAAAAAABY/WYXqRO_9bUo/s72-c/finna_outbound.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-6526855271028817555</id><published>2008-06-05T16:18:00.004+08:00</published><updated>2008-06-05T16:37:13.209+08:00</updated><title type='text'>Jadwal Euro 2008</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="judul"&gt;Jadwal Pertandingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;      &lt;!--&lt;div class="diprint"&gt;&lt;a href="javascript:openWindow('http://pialaeropa.detiksport.com/index.php/detik.print/idkanal/1')"&gt;&lt;img src="http://pialaeropa.detiksport.com/image/iconprint.gif" alt="Print" width="25" height="25" hspace="0" vspace="0" border="0" /&gt; &lt;br /&gt;Print&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;--&gt;         &lt;table style="width: 445px; height: 1061px;" cellpadding="3" cellspacing="1"&gt;        &lt;tbody&gt;&lt;tr class="c1"&gt;    &lt;td style="text-align: center;" colspan="9" valign="top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c2"&gt;                 &lt;td width="5%"&gt;&lt;strong&gt; No &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="11%"&gt;&lt;strong&gt; Tanggal &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td width="11%"&gt;&lt;strong&gt; Hari &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td width="8%"&gt;&lt;strong&gt; Jam &lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; (wib) &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td width="10%"&gt;&lt;strong&gt; Grup &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td width="30%"&gt;&lt;strong&gt; Versus &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                 &lt;td width="13%"&gt;&lt;strong&gt; Kota&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c5"&gt;                 &lt;td colspan="9" valign="top"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Babak Penyisihan&lt;/span&gt; &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;                                             &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 3 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 09 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Senin &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Austria vs Kroasia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Ernst Happel Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 4 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 09 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Senin &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Jerman vs Polandia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Worthersee Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 5 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 10 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Selasa &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Rumania vs Prancis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Letzigrund Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 6 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 10 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Selasa &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Belanda vs Italia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Stade de Suisse Wankdorf &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 7 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 11 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Rabu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Spanyol vs Rusia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Tivoli-Neu, Innsbruck &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 8 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 11 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Rabu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Swedia vs Yunani &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wals-Siezenheim, Salzburg &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 9 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 12 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Kamis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; A &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Republik Ceko vs Portugal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Stade de Geneve, Jenewa &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 10 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 12 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Kamis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; A &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Swiss vs Turki &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; St. Jakob-Park, Basel &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 11 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 13 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Jumat &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Kroasia vs Jerman &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Worthersee Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 12 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 13 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Jumat &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Austria vs Polandia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Ernst Happel Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 13 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 14 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Sabtu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Italia vs Rumania &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Letzigrund Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 14 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 14 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Sabtu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Prancis vs Belanda &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Stade de Suisse Wankdorf &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 15 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 15 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Minggu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 00:00 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Swedia vs Spanyol &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Tivoli-Neu, Innsbruck &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 16 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 15 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Minggu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Yunani vs Rusia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wals-Siezenheim, Salzburg &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 17 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 16 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Senin &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; A &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Swiss vs Portugal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; St. Jakob-Park, Basel &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 18 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 16 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Senin &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; A &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Turki vs Republik Ceko &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Stade de Geneve, Jenewa &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 19 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 17 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Selasa &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Polandia vs Kroasia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Worthersee Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 20 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 17 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Selasa &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Jerman vs Austria &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Ernst Happel Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 21 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 18 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Rabu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Belanda vs Rumania &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Stade de Suisse Wankdorf &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 22 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 18 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Rabu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Italia vs Prancis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Letzigrund Stadion &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 23 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 19 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Kamis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Yunani vs Spanyol &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wals-Siezenheim, Salzburg &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 24 &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; 19 Jun &lt;/td&gt;                 &lt;td style="vertical-align: top;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td valign="top"&gt; Kamis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02:45 &lt;/td&gt;                 &lt;td align="center" valign="top"&gt; D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Rusia vs Swedia &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Tivoli-Neu, Innsbruck &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td colspan="9" valign="top"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;        &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;table style="width: 427px; height: 431px;" border="0" cellpadding="3" cellspacing="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr class="c5"&gt;&lt;td colspan="7" valign="top"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Babak Perempat Final&lt;/span&gt; &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top" width="5%"&gt; 25 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top" width="11%"&gt; 20 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top" width="11%"&gt; Jumat &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top" width="8%"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top" width="10%"&gt; Perempatfinal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top" width="30%"&gt; Winner A vs Runner-up B &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top" width="13%"&gt; Basel &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 26 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 21 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Sabtu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Perempatfinal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Winner B vs Runner-up A &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wina &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 27 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 22 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Minggu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Perempatfinal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Winner C vs Runner-up D &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Basel &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 28 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 23 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Senin &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Perempatfinal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Winner D vs Runner-up C &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wina &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td colspan="7" align="center" valign="top"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr style="font-weight: bold;" class="c5"&gt;                 &lt;td colspan="7" valign="top"&gt;Babak Semifinal&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 29 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 26 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Rabu &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Semifinal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Winner 25 vs Winner 26 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Basel &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c4"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 30 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 27 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Kamis &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Semifinal &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Winner 27 vs Winner 28 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wina &lt;/td&gt;                                &lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td colspan="7" align="center" valign="top"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c5"&gt;                 &lt;td colspan="7" valign="top"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Babak Final&lt;/span&gt; &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;               &lt;tr class="c3"&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 31 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt;30 Juni &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Senin &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; 02.45 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Final &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Winner 29 vs Winner 30 &lt;/td&gt;                 &lt;td valign="top"&gt; Wina &lt;/td&gt;                 &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;div class="paging"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://pialaeropa.detiksport.com/index.php/detik.jadwal/idkanal/2"&gt;&lt;strong&gt;Jadwal Siaran Langsung&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sumber : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Detiksport&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-6526855271028817555?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/6526855271028817555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=6526855271028817555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6526855271028817555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6526855271028817555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/06/jadwal-euro-2008.html' title='Jadwal Euro 2008'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-4190746318426966434</id><published>2008-06-05T16:08:00.002+08:00</published><updated>2008-06-05T16:12:21.686+08:00</updated><title type='text'>Awas! Risiko Baru Bagi Perokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SEefsg1HGHI/AAAAAAAAAA8/chUEFso5koU/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 244px; height: 235px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SEefsg1HGHI/AAAAAAAAAA8/chUEFso5koU/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208307081153026162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Jakarta&lt;/strong&gt; Risiko yang akan dialami anak-anak yang menghirup asap rokok adalah penyakit asma dan infeksi saluran pernapasan. Tak hanya itu Dr Len Horovitz, seorang spesialis paru-paru dari Rumah Sakit Lenox Hill, New York, Amerika Serikat dari health24 juga menyebutkan kalau asap rokok juga dapat memperlemah daya tahan tubuh anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah penelitian dilakukan di Hong Kong terhadap 7.402 anak. Hasilnya 14 persen dari anak-anak tadi menderita infeksi saluran pernapasan akut hingga harus dirawat di rumah sakit. Alasannya karena setiap harinya anak-anak itu harus menghisap asap rokok orang tuanya dari jarak kurang lebih 3 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Jadi bukan hanya tubuh Anda yang dirusak rokok, orang-orang terdekat Anda juga ikut menanggung akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Detikhot&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-4190746318426966434?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/4190746318426966434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=4190746318426966434' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/4190746318426966434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/4190746318426966434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/06/awas-risiko-baru-bagi-perokok.html' title='Awas! Risiko Baru Bagi Perokok'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SEefsg1HGHI/AAAAAAAAAA8/chUEFso5koU/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-4275478662158509207</id><published>2008-05-08T19:06:00.003+08:00</published><updated>2008-05-08T19:16:11.299+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><title type='text'>Milis Psikologi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SCLgdL0FlgI/AAAAAAAAAA0/RZ8EOWmm_D0/s1600-h/psikologi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 96px; height: 162px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SCLgdL0FlgI/AAAAAAAAAA0/RZ8EOWmm_D0/s200/psikologi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197963711931061762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Description&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Milis Psikologi ini mendiskusikan topik atau masalah seputar psikologi atau perilaku manusia/masyarakat. Dengan adanya milis psikologi ini, diharapkan para anggota yang ikut bisa memperoleh manfaat dan mendapatkan informasi pengetahuan mengenai perilaku manusia. Milis ini bukan merupakan konsultasi para anggota dengan ahli psikologi, namun lebih merupakan diskusi antar peserta dan bisa saja para peserta mengemukakan persoalan yang kemudian dibahas secara bersama-sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin konsultasi secara pribadi, silahkan lihat pada database milis psikologi tentang daftar member milis Psikologi terima konsultasi dan kemudian hubungi secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cross-posting atau mengirimkan tayangan dari milis lain, tanpa komentar Anda dan ijin penulis asli adalah perilaku yang tidak oke di milis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;Group Email Addresses&lt;/h4&gt;  &lt;table class="ygrp-links" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Post message:&lt;/td&gt; &lt;td&gt;psikologi@yahoogroups.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;Subscribe:&lt;/td&gt; &lt;td&gt;psikologi-subscribe@yahoogroups.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;Unsubscribe:&lt;/td&gt; &lt;td&gt;psikologi-unsubscribe@yahoogroups.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;List owner:&lt;/td&gt; &lt;td&gt;psikologi-owner@yahoogroups.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-4275478662158509207?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/4275478662158509207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=4275478662158509207' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/4275478662158509207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/4275478662158509207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/05/milis-psikologi.html' title='Milis Psikologi'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SCLgdL0FlgI/AAAAAAAAAA0/RZ8EOWmm_D0/s72-c/psikologi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-1296449917670259464</id><published>2008-05-07T10:08:00.002+08:00</published><updated>2008-05-07T10:17:50.759+08:00</updated><title type='text'>CHATTING DENGAN TUHAN.</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;BUZZ&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Kamu memanggilKu ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; denganmu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;: Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU &lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun.Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Benar sekali. Aktifitas memberimu kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil. Aktifitas memakan waktu, Produktifitas membebaskan waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU &lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghidarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku chatting seperti ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;: Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi begitu rumit?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;: Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika ada begitu banyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; ketidakpastian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; sebuah pilihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; pilihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Tetapi, mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Masalah adalah Rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; Kekuatan mental (Purposeful Roadblocks Offering Beneficial Lessons (to)Enhance Mental&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; Strength). Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan, bukan dari berleha-leha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; melangkah...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak akan tahu kemana kamu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau syukuri,jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Apa yang menarik dari manusia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Jika menderita, mereka bertanya "Mengapa harus aku?". Jika mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; bahagia, tidak ada yang pernah bertanya "Mengapa harus aku?".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Jangan mencari siapa kamu, tapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Hadapilah masa lalu-mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak dijawab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;AKU&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;" lang="SV"&gt;TUHAN &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Oke. Teguhlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Tahoma;"&gt;TUHAN has signed out.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-1296449917670259464?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/1296449917670259464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=1296449917670259464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/1296449917670259464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/1296449917670259464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/05/chatting-dengan-tuhan.html' title='CHATTING DENGAN TUHAN.'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-6318481295818810019</id><published>2008-04-19T19:24:00.000+08:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.648+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Shopaholic</title><content type='html'>&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="style3"&gt;Kategori Klinis&lt;br /&gt;    Oleh : Pudji Susilowati, S.Psi&lt;br /&gt;    Jakarta, 4/2/2008&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;X adalah seseorang yang selalu tidak dapat menahan diri untuk berbelanja baju dan sepatu ketika memiliki uang padahal baju dan sepatunya sudah banyak, meskipun X tahu kalau uang itu untuk membayar kuliahnya. X tetap membelanjakan uang tersebut. Namun, setelah selesai berbelanja dan menghabiskan uangnya, X menyesal kenapa dirinya tidak mampu untuk menahan keinginannya untuk berbelanja. X merasa tersiksa dengan perilaku belanjanya ini. Selain itu, X selalu mempersepsi orang lain berdasarkan banyaknya kepemilikan harta karena baginya, orang lain akan menghormati dan menghargai jika dirinya memiliki banyak barang.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, di kota-kota besar banyak didirikan mall yang menawarkan berbagai produk-produk fashionmall, apalagi bagi orang-orang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja. Sebelumnya, saya ingin bertanya pada Anda "Mengapa Anda membeli begitu banyak pasang sepatu dan baju namun tidak mengenakannya? Apa Anda akan mengatakan bahwa sepatu dan baju itu tampak begitu menarik tetapi sesudah membeilnya, Anda merasa kurang menyukainya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anda termasuk orang yang tidak mampu menahan keinginan untuk berbelanja meskipun Anda sebenarnya tidak terlalu membutuhkan barang-barang tersebut? Apabila Anda membuka almari pakaian dan sepatu Anda maka akan Anda akan dihadapkan pada setumpuk pakaian dan sepatu dengan berbagai merek. Mungkin seringkali Anda termasuk orang yang mudah terjebak oleh keinginan Anda sendiri untuk mengkonsumsi produk-produk fashion terbaru agar tidak ketinggalan tren yang berlaku. Apalagi, pada saat ini konsumerisme dan gaya hidup hedonis telah menjamur dimana-mana sehingga menyebabkan sebagian besar orang berlomba-lomba mengumpulkan barang-barang sebanyak-banyaknya hanya karena ingin dihormati, dihargai dan agar terlihat percaya diri. Padahal kenyataannya, produk-produk fashion yang ditawarkan selalu berubah-ubah modenya sehingga Anda akan merasa tidak puas dengan apa yang Anda miliki sehingga hal ini dapat membuat Anda terjebak dalam shopaholic. Shopaholic terjadi jika seseorang tidak mampu menahan dorongan-dorongan dalam dirinya untuk berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkannya, bahkan secara tidak sadar membeli barang-barang tersebut tanpa memperhatikan kondisi keuangannya. Perlu diketahui, shopaholic ini dapat membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain karena dapat mengakibatkan seseorang bunuh diri dan melakukan tindak kriminalitas. Oleh karena itu, masalah shopaholic harus ditangani secara serius. terbaru. Hal ini akhirnya, membuat sebagian besar masyarakat sering berkunjung ke &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Definisi &lt;i&gt;Shopaholic&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;         Apa &lt;i&gt;shopaholic&lt;/i&gt; itu? Shopaholic berasal dari kata &lt;i style=""&gt;shop&lt;/i&gt; yang artinya belanja dan aholic yang artinya suatu ketergantungan yang disadari ataupun tidak. Menurut Oxford Expans (dalam Rizka, 2008) dikemukakan bahwa shopaholic adalah seseorang yang tidak mampu menahan keinginannya untuk berbelanja dan berbelanja sehingga menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk berbelanja meskipun barang-barang yang dibelinya tidak selalu ia butuhkan. Mungkin muncul pertanyaan dihati Anda, bagaimana gejala-gejala seseorang yang mengalami shopaholic?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gejala-gejala &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Shopaholic&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt; Perlu diketahui bahwa tidak semua orang yang suka berbelanja atau pergi ke mall dapat dikatakan shopaholic. Menurut Klinik Servo (2007), seseorang dapat dikatakan mengalami &lt;i&gt;shopaholic&lt;/i&gt; jika menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpFirst"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Suka      menghabiskan uang untuk membeli barang yang tidak dimiliki meskipun barang      tersebut tidak selalu berguna bagi dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Merasa      puas pada saat dirinya dapat membeli apa saja yang diinginkannya, namun      setelah selesai berbelanja maka dirinya merasa bersalah dan tertekan dengan      apa yang telah dilakukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Pada      saat merasa stres, maka akan selalu berbelanja untuk meredakan stresnya      tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Memiliki      banyak barang-barang seperti baju, sepatu atau barang-barang elektronik,      dll yang tidak terhitung jumlahnya, namun tidak pernah digunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Selalu      tidak mampu mengontrol diri ketika berbelanja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Merasa      terganggu dengan kebiasaan belanja yang dilakukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Tetap      tidak mampu menahan diri untuk berbelanja meskipun dirinya sedang bingung      memikirkan hutang-hutangnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Sering      berbohong pada orang lain tentang uang yang telah dihabiskannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;br /&gt;Dampak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shopaholic&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;          Shopaholic dapat mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -17.85pt; text-align: justify;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="" times="" new="" roman=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;ul style="margin-top: 0cm; text-align: justify;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Sering      mengalami kehabisan uang padahal masih awal bulan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Dapat      mengakibatkan seseorang memiliki hutang dalam jumlah yang besar karena      untuk memnuhi pikiran-pikiran obsesi untuk berbelanja dan berbelanja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Dapat      mengakibatkan seseorang dipecat dari pekerjaannya karena melakukan      pemborosan dengan menggunakan uang perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Memicu      seseorang untuk melakukan tindak kriminal (seperti mencuri, memeras,korupsi      dll) hanya karena ingin mendapatkan uang demi memenuhi dorongan untuk      belanja yang terus-menerus dalam dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Dapat      mengakibatkan perceraian karena pasangan dari si penderita shopaholic      merasa tersiksa dengan uang yang selalu dihabiskan pasangannya hanya untuk      berbelanja dan berbelanja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Dapat      mengakibatkan pertengkaran karena pemborosan yang dilakukan oleh penderita      shopaholic.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormalCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Dapat      mengakibatkan seseorang bunuh diri karena dalam dirinya selalu muncul      pikiran-pikiran obsesi untuk berbelanja dan berbelanja dan si penderita      merasa tersiksa jika tidak melakukan pikiran-pikiran obsesinya tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dampak dari shopaholic memang sangat merugikan bagi kehidupan seseorang bahkan dapat mengancam keselamatan dirinya sendiri dan orang lain. Apakah hanya perempuan saja yang mengalami shopaholic, karena perempuan sering dijuluki kaum yang suka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shopping&lt;/span&gt;?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Siapa yang berpotensi mengalami &lt;i&gt;Shopaholic&lt;/i&gt;? &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-size:85%;"&gt; Menurut penelitian dikemukakan bahwa 90% penderita shopaholic adalah perempuan, namun laki-laki juga mengalami shopaholic. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh &lt;i style=""&gt;Stanford University&lt;/i&gt; mengatakan bahwa laki-laki juga mengalami shopaholic. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki dapat menderita shopaholic. Barang-barang apa saja yang sering dibeli oleh perempuan dan laki-laki yang mengalami shopaholic? Perempuan yang mengalami shopaholic akan lebih suka untuk membeli pakaian, make-up, perhiasan, sedangkan laki-laki akan lebih suka membeli barang elektronik seperti HP, MP3 Player, dll (&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://www.rasensi,nl/"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;www.rasensi,nl&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyebab &lt;i&gt;Shopaholic&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;         Mungkin saat ini, Anda sedang bertanya-tanya apa penyebab seseorang mengalami shopaholic? Menurut Klinikservo (2007), ada beberapa penyebab seseorang mengalami &lt;i&gt;shopaholi&lt;/i&gt;c, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;    &lt;ul style="margin-top: 0cm;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Seseorang      menganut gaya hidup hedonis (materialis) dan mempersepsi bahwa manusia      adalah &lt;i style=""&gt;human having&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Human having&lt;/i&gt; adalah seseorang yang      cenderung mempersepsi orang lain berdasarkan apa yang dimiliki (seperti      punya mobil, rumah, jabatan). &lt;i style=""&gt;Human      having&lt;/i&gt; ini akan mengakibatkan seseorang merasa terus kekurangan,      selalu diliputi kecemasan, tidak akan termotivasi untuk mengejar kebutuhan      pada tingkat yang lebih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Kecemasan      yang berlebihan karena mengalami trauma di masa lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Iklan-iklan      yang ditampilkan diberbagai media yang menggambarkan bahwa pola hidup      konsumtif dan hedonis merupakan sarana untuk melepaskan diri dari stres.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Adanya      pikiran-pikiran obsesi yang tidak rasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Apakah shopaholic merupakan salah satu bentuk gangguan psikologis? Shopaholic merupakan salah satu bentuk dari gangguan obsesi kompulsif. Apa definisi dan penyebab terjadinya gangguan obsesi kompulsif? Untuk lebih jelasnya, simaklah uraian singkat tentang gangguan obsesi kompulsif berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa gangguan obsesif kompulsif itu? &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;br /&gt;       Gangguan obsesif kompulsif adalah suatu gangguan psikologis yang ditandai dengan adanya pikiran-pikiran obsesif (pikiran-pikiran yang selalu berulang-ulang menghantui seseorang untuk melakukan suatu perilaku tertentu) dan adanya perilaku kompulsif (perilaku yang selalu dilakukan berulang-ulang, tetapi jika tidak dilakukan maka seseorang akan merasa tersiksa). Penderita obsesi kompulsif sebenarnya merasakan bahwa apa yang dilakukannya tidak rasional namun dirinya tidak mampu mengontrol kebiasaan yang dilakukannya tersebut. Apa saja gejala-gejala seseorang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gejala-gejala Gangguan Obsesi Kompulsif&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;br /&gt;        Menurut e-media (2007), seseorang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif akan menunjukkan beberapa gejala-gejala yaitu merasa tertekan oleh pikiran-pikiran obsesi yang muncul dari dalam dirinya, melakukan perilaku kompulsif secara berulang-ulang untuk meredakan rasa tidak nyaman yang dirasakannya, selalu merasa cemas, dll. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Solusi Mengatasi &lt;i&gt;Shopaholic&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;br /&gt;               Shopaholic&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt; dapat diatasi dengan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dan terapi relaksasi. CBT akan membantu penderita untuk mengatasi pikiran dan perilakunya yang tidak rasional dan mencegah penderita untuk melakukan kebiasaan belanja secara terus-menerus. Selain itu, terapi relaksasi berguna untuk membantu mengurangi kecemasan dan membantu penderita untuk rileks dalam menghadapi pikiran-pikiran obsesinya yang muncul. Penderita Shopaholic juga perlu dilatih untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan sehingga hal dapat mulai mengontrol kebisaan belanjanya yang tidak rasional.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" arial="" serif=""&gt;Solusi Untuk Mencegah Seseorang Menderita &lt;i&gt;Shopaholic&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;        Agar Anda tidak mengalami Shopaholic maka sebaiknya sesegera mungkin Anda mengontrol diri Anda pada saat berbelanja dan mengatasi stres dengan cara yang positif. Anda dapat melakukan perencanaan pengeluaran Anda ketika akan pergi ke &lt;i&gt;mall&lt;/i&gt; sehingga hal dapat mengontrol perilaku belanja Anda yang tidak terkontrol. Namun, Anda juga harus komitmen hanya membeli barang yang benar-benar Anda butuhkan bukan karena godaan sesaat. Selain itu, Anda perlu pembukukan pengeluaran-pengeluaran yang telah Anda lakukan dan mencatat barang-barang kebutuhan pokok apa saja yang memang perlu untuk dibeli sehingga Anda dapat mengontrol perilaku belanja Anda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Jika Anda merasa bahwa diri Anda mengalami gangguan obsesi kompulsif, sebaiknya Anda mencari tahu, apa akar masalah yang menyebabkan Anda kain hari kian gelisah, resah, cemas, tidak bisa tenang, dsb. Sebab, obsesif kompulsif itu merupakan tanda dari adanya masalah yang tidak selesai, atau dihadapi dengan cara yang keliru, sehingga menambah persoalan baru. Setiap orang pasti bisa tahu apa masalahnya, kalau mau jujur pada diri sendiri. Tapi, memang tidak mudah untuk mau berhadapan dengan kenyataan diri. Kalau pun tidak bisa mengetahui / memformulasikan apa masalahnya, maka berkonsultasi dengan pihak yang kompeten, seperti psikolog, akan sangat membantu memberikan petunjuk, arah dan bimbingan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Untuk sembuh dari shopaholic memang tidak mudah, namun dengan usaha dan ketekunan, kesembuhan akan tercapai. Selain itu, empati dari anggota keluarga dan penderita sangat membantu dalam mempercepat kesembuhan penderita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Dalam kehidupan sekarang yang diwarnai dengan konsumerisme, hendaknya kita menyadari bahwa manusia bukanlah &lt;i style=""&gt;human having&lt;/i&gt; tetapi &lt;i style=""&gt;human being&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" arial="" serif=""&gt;Semoga pembahasan tentang Shopaholic, dapat memberikan manfaat bagi Anda dan dapat mencegah meningkatnya problem shopaholic.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-6318481295818810019?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/6318481295818810019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=6318481295818810019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6318481295818810019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/6318481295818810019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/04/shopaholic.html' title='Shopaholic'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-7978237475090523895</id><published>2008-04-16T09:27:00.000+08:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.649+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Laskar Pelangi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -1pt; text-align: justify; line-height: 22pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;nd&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;ea&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -1pt; text-align: justify; line-height: 22pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;SB&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;979&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;3062&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;79&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 4.95pt 0.0001pt 6pt; text-align: justify; line-height: 25pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;sc&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;bed&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;v&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;boo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;pe&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;bah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;p&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;ad&lt;/span&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;uh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;bu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;uh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;nn&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;deng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;ua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;o&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;d&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;anp&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;un&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;u&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;n&lt;/span&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;penu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt; T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;epa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;da&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;ah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;ba&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;be&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;aa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;il&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;nda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;ad&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;h&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;penge&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;E&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;boo&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;ba&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;en&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;j&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;ad&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;f&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;il&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;ng&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;be&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;be&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;da&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;un&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;udah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;pe&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;ba&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;c&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 4.95pt 0.0001pt 6pt; text-align: justify; line-height: 25pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 4.95pt 0.0001pt 6pt; text-align: justify; line-height: 25pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial; letter-spacing: -0.1pt;"&gt;Bila Kalian-kalian  ingin mendownloadnya secara silakan.......&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Chapter 1        &lt;a href="http://www.4shared.com/file/44246454/c1cf680b/U_Laskar_Pelangi.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Chapter 2        &lt;a href="http://www.4shared.com/file/44246470/f494ce90/U_Laskar_Pelangi2.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Chapter 3        &lt;a href="http://www.4shared.com/file/44246487/ed6847fc/U_Laskar_Pelangi3.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Chapter 4          &lt;a href="http://www.4shared.com/file/44246501/cd1002f6/U_Laskar_Pelangi4.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Chapter End&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/44246448/d1621561/LaskarPelangi21-24.html"&gt;Download&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-7978237475090523895?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/7978237475090523895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=7978237475090523895' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/7978237475090523895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/7978237475090523895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/04/laskar-pelangi.html' title='Laskar Pelangi'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-5147121111148656122</id><published>2008-04-15T16:58:00.000+08:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.650+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Tentang teman – teman di Psikologi Mas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mas, apa kabarmu disana mas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pasti di negeri sana tidak pernah mati lampu seperti ketika surat ini aku tulis ya? Ahh.., lilin inipun lilin terakhir yang saya punya. Tetapi tidak apa – apa mas, ini tidak mengurangi niat untuk menulis coretan tinta ini padamu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mas, psikologi sekarang sudah banyak berubah. Ingatkah engkau tentang romantisme keluarga psikologi dulu? saat kita sama – sama masih duduk dibangku kuliah, walaupun beda kelas dan beda semester. Semua terasa dekat. Hari – hari dilalui dengan sederhana dengan istilah ”&lt;i&gt;kere hore&lt;/i&gt;”. Aku sangat merindukannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dirimu yang menyayangi kami sehingga kami hormat padamu. Tidak penting apa tongkronganmu, dari mana asalmu, apa agamamu. kita sering ramai – ramai nongkrong di kampus sampai sore. Sampai – sampai kita buka baju berkeringat karena main basket, sepak bola, atau nongkrong di pos satpam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan berbagi sebatang rokok. Masih ingatkah mas? Saat bermalam di kampus, tidur – tiduran di aspal, hingga berjalan dari gunung ungaran sampai ke kampus. Semua berjalan sederhana tetapi menyenangkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tetapi satu per satu teman – teman kita mulai meninggalkan kampus kita ini mas, memang beberapa masih ada disini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Keluarga kecil kita dulu terasa ramai walaupun dengan ”sedikit” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;anggota keluarga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tak terasa tahun – tahun berlalu dengan cepatnya, keluarga kita semakin banyak dan menjadi keluarga besar. Semakin banyak anggota keluarga ini semakin banyak pula adik – adik kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Tetapi mau bagaimana lagi, memang tidak ada yang tidak berubah mas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Benar – benar berubah! Dan seiring dengan itu pula mas, keluarga besar ini malah terasa sepinya, agaknya, mungkin ini yang disebut kesepian diantara keramaian. Aku merasa kesepian diantara keglamouran keluarga kita sekarang ini, aku merasa kesepian melihat kampus ini sepi. Setiap langkah dengan cepat pergi meninggalkan kampus setelah kuliah usai. Tak ada lagi basket bersama, sepak bola, bahkan sekedar nongkrong. Mungkin hanya Hima yang masih ingat dengan itu semua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mas, entah ini hanya perasaanku atau memang begitu adanya. Keluarga kita sekarang ini glamour sekali mas, &lt;i&gt;fashion style, hair style&lt;/i&gt;, dialek, dan tongkrongan benar – benar menunjukkan individualisme dan komunalisme dalam keluarga kita ini. Kasih sayangmu dan rasa hormat kami telah jauh bergeser, hilang bersama bias materi. Yang telah menjadi skenario kapitalisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Iya mas, individual dan komunal. Kebijakan juga yang mungkin mengantar hingga seperti ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mungkin benar juga jika ada yang berpendapat jika 90% perguruan tinggi adalah pangsa kapitalis. Aku mulai mengamini itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bersamaan dengan itu juga mas, ada selompok keluarga kita yang berusaha menyadarkan keluarga ini dari kapitalisme, (neo) liberalisme, politik global. Tetapi sayang sekali mereka susah sekali diterima mas, mungkin karena mereka lebih cenderung politis daripada gerakan moral, mereka terjerat &lt;i&gt;stereotype&lt;/i&gt; dan stigmatisasi komunal. Tetapi saya salut dengan mereka mas, pantang menyerah dan ulet. Entah model indoktrinasi seperti apa yang dapat memotivasi anggota keluarga kita tersebut hingga jadi seperti itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Agaknya, seperti itulah wajah keluarga kita sekarang ini mas. Entah apa yang akan terjadi dengan keluarga ini kedepannya, gosip – gosipnya sih jadi fakultas mas. Kata orang gosip itu kenyataan yang terlalu cepat datang, tetapi entah kapan kenyataan sebenarnya tersebut datang. Saya pikir gosip itu hanya &lt;i&gt;lip service&lt;/i&gt; untuk memotivasi &lt;i&gt;vestes interest&lt;/i&gt; agar tertarik pada keluarga kita ini mas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Lampu belum juga menyala mas, sementara nyala lilin terkhir ini sudah hampir habis. Sepertinya Ini dulu yang saya tulis ya mas, mata ini terasa beratnya untuk terus terjaga. Ahh, semoga tubuh ini dapat beristirahat penuh di tengah gelapnya malam ini mas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sampai jumpa di lain waktu mas, semoga usia ini masih cukup panjang untuk menantikan persuaan kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-5147121111148656122?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/5147121111148656122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=5147121111148656122' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5147121111148656122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5147121111148656122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2008/04/tentang-teman-teman-di-psikologi-mas.html' title='Tentang teman – teman di Psikologi Mas'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-2033133374398643149</id><published>2007-10-30T09:30:00.000+07:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.650+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Peran Psikologi dalam Perusahaan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh Johanes Papua&lt;br /&gt;Team e-psikologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 1 Maret 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya sebagai sebuah ilmu, Psikologi telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan organisasi atau perusahaan. Teori, hasil penelitian dan teknik-teknik atau metode tentang perilaku organisasi telah banyak diaplikasikan oleh perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktivitas.  Para lulusan Psikologi yang berkarir dalam dunia bisnis juga telah banyak menunjukkan peranan penting mereka dalam pengembangan sumber daya manusia di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja.  Permasalahannya adalah masih banyak orang yang belum dapat melihat peran tersebut karena memang cenderung "implisit" artinya seringkali tidak langsung dapat dilihat secara finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Industri dan Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Psikologi dalam pengertian umum adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah-laku manusia. Bagi orang awam seringkali Psikologi disebut dengan ilmu jiwa karena berhubungan dengan hal-hal psikologis/kejiwaan. Sama seperti ilmu-ilmu yang lain, maka Psikologi memiliki beberapa sub bidang seperti Psikologi Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Sosial, Psikologi Perkembangan, Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Industri &amp;amp; Organisasi, Psikologi Lingkungan, Psikologi Olahraga, dan Psikologi Anak &amp;amp; Remaja. Dari beberapa sub bidang tersebut Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) merupakan bidang khusus yang memfokuskan perhatian pada penerapan-penerapan ilmu Psikologi bagi masalah-masalah  individu dalam perusahaan yang secara khusus menyangkut penggunaan sumber daya manusia dan perilaku organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.e-psikologi.com/masalah/peran%20psikologi.htm"&gt;More&gt;&gt;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-2033133374398643149?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/2033133374398643149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=2033133374398643149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/2033133374398643149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/2033133374398643149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2007/10/peran-psikologi-dalam-perusahaan.html' title='Peran Psikologi dalam Perusahaan'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-3696907255981705186</id><published>2007-10-30T09:10:00.000+07:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.651+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Jadilah Diri Anda Sendiri, Maka Anda Akan Bahagia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sahabatku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya salah satu pintu masuk menuju kebahagiaan adalah, ketika kita menjadi diri kita sendiri. Keyakinan kita dengan potensi, bakat, kekuatan dan karakteristik yang ada pada diri kita, membuat kita merasakan keistimewaan dan keunikan yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah ragu wahai sahabat, bila kita sudah menemukan bakat kita, sekalipun menurut orang lain adalah sesuatu yang “remeh”. Ketika kita menjadi diri kita sendiri, maka kita akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda berkumpul dengan orang-orang yang pintar pada satu bidang, yang mana bidang itu bukan keahlian Anda, jangan Anda katakan pada mereka bahwa keahlian yang mereka miliki juga Anda miliki. Keinginan Anda hidup dibawah bayang-bayang mereka justru akan melemahkan kedudukan Anda. Mengapa? Karena hal itu jelas akan menghilangkan kelebihan yang ada dalam diri Anda. Anda hanya berkutat pada kekurangan yang ada pada diri Anda. Dan jelas pada akhirnya akan melemahkan Anda, membuat Anda tidak bisa melangkah lebih&lt;br /&gt;jauh, dunia ini terasa sangat sempit. Jack Trout dalam bukunya yang cukup mencerahkan, Differentiatie or Die, berkata tentang hal ini: “Jika Anda mengabaikan keunikan Anda dan mencoba untuk memenuhi kebutuhan semua orang, Anda langsung melemahkan apa yang membuat Anda ‘berbeda’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujurlah dan katakan pada mereka, “Maaf, ini bukan bidang saya. Saya bodoh pada masalah yang kini sedang kalian bicarakan. Saya tidak tahu, apakah keahlian saya dapat digunakan untuk membantu kalian atau tidak.” Ketika Anda memberitahukan kepada mereka bahwa keahlian Anda di bidang B bukan A, mereka akan lebih antusias kepada Anda. Mereka akan lebih percaya, salut dan bangga berteman dengan Anda. Percayalah kepadaku tentang hal ini. “Anda adalah sesuatu yang berbeda dengan lainnya. Tidak pernah ada sejarah yang mencatat orang seperti Anda sebelumnya dan tidak akan ada orang seperti Anda di dunia ini pada masa yang akan datang.” (Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya, La Tahzan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sahabatku…&lt;br /&gt;Tidak ingin menjadi diri kita sendiri disebabkan oleh keinginan kita untuk mendapatkan pujian manusia. Kita ingin menjadi populer di mata masyarakat. Sebuah hasil penelitian psikologi menyebutkan: orang-orang yang ingin menjadi populer seringkali tidak jujur. “Dan mereka sendiri senang dipuji dengan amal yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.” (QS. 3: 188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat diri terkenal, itu bukan tujuan hidup kita. Kita hanya disuruh berbuat sebaik mungkin. Jika niat kita sudah salah, maka hasilnya pun akan tidakഊmaksimal. Jika niat kita ingin terkenal tidak segera terwujud, kita hanya bisa larut dalam kesedihan karena tujuan hidup kita sudah terkandaskan. Sedangkan tujuan itu sendiri adalah final kehidupan. Tidak ada lagi kehidupan sesudah gagal mencapai titik final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang yang menyesuaikan tujuan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah; kegagalan dalam menghadapi sebuah episode kehidupan dunia ini bukan berarti kegagalan segala-galanya. “Jangan berambisi mencari popularitas, karena tabiat tersebut adalah indikasi dari kekeruhan jiwa, kegelisahan, dan keresahan.” (Dr. Aidh Al Qarni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seburuk apapun karya kita dan sekecil apa pun prestasi kita, hargailah itu! Semua itu kita peroleh dari hasil kerja keras kita, hasil kejeniusan otak kita, dan hasil kreativitas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, alangkah berbahagianya orang yang mencari ridha hanya kepada Allah semata. Dia tidak ingin menjadi populer di mata masyarakat. Jika masyarakat tidak menghargai karyanya, itu hal biasa baginya. Karena Allah sendiri telah berfirman: “Kebanyakan manusia tiada mengetahui.” Artinya hanya sedikit saja manusia yang dapat memahami kebenaran. Namun, bukan berarti bahwa dirinya lebih hebat dan lebih suci dari orang lain. Dia telah mendengar firman Allah yang berbunyi: “Janganlah kalian mengklaim diri kalian suci. Dialah yang paling&lt;br /&gt;mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. 53: 32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masyarakat menghargai karyanya, sekali-kali tidaklah ia menyombongkan diri. “Dan janganlah kalian (orang-orang beriman) berperilaku seperti orang-orang (kafir) yang keluar dari kampung halaman mereka dengan rasa angkuh dan bersikap riya kepada manusia.” (QS. 8: 47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah menyebutkan, seorang muslim yang fakir bernama Julaibib gugur dalam sebuah pertempuran melawan pasukan kafirin. Lantas Rasulullah SAW pun memeriksa orang-orang yang gugur dan para sahabat memberitahukan kepada beliau nama-nama mereka. Akan tetapi, mereka lupa kepada Julaibib hingga namanya tidak disebutkan, karena Julaibib bukan seorang yang terpandang dan bukan pula orang yang terkenal. Sebaliknya, Rasulullah ingat&lt;br /&gt;Julaibib dan tidak melupakannya; namanya masih tetap diingat oleh beliau di antara nama-nama lainnya yang disebut-sebut. Beliau sama sekali tidak lupa kepadanya, lalu beliau bersabda: “tetapi aku merasa kehilangan Julaibib!” Akhirnya, beliau menemukan jenazahnya dalam keadaan tertutup pasir, lalu beliau membersihkan pasir dari wajahnya seraya bersabda sambil meneteskan airmata: “Ternyata engkau telah membunuh tujuh orang musuh, kemudian&lt;br /&gt;engkau sendiri terbunuh. Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu; Engkau termasuk golonganku dan aku termasuk golonganmu.” Cukuplah bagiഊJulaibib dengan medali nabawi ini sebagai hadiah, kehormatan, dan anugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai sahabat…&lt;br /&gt;Seperti Julaibib, tidak ingin menjadi orang terkenal dan terpandang. Seperti Julaibib, hidup menjadi dirinya sendiri. Seperti Julaibib, mengakhiri hidupnya dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Tidakkah kita ingin mendapatkan apa yang telah didapatkan Julaibib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://www.kafemuslimah.com/article_detail.php?id=597&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-3696907255981705186?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/3696907255981705186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=3696907255981705186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/3696907255981705186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/3696907255981705186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2007/10/jadilah-diri-anda-sendiri-maka-anda.html' title='Jadilah Diri Anda Sendiri, Maka Anda Akan Bahagia'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-5449435707172331908</id><published>2007-10-30T08:28:00.000+07:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.652+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Psikologi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Psikologi (dari bahasa Yunani Kuno: psyche = jiwa dan logos = kata) dalam arti bebas psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa/mental. Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi"&gt;More&gt;&gt;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-5449435707172331908?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/5449435707172331908/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=5449435707172331908' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5449435707172331908'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5449435707172331908'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2007/10/psikologi.html' title='Psikologi'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-5445447747196488378</id><published>2007-10-30T08:22:00.000+07:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.652+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Fenomena Aktivis Tidak Ramah!!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengan tempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampak beberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian, adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yang menarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tanda hitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”, suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, pada waktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacaan sang imam begitu bagus karena terbayang teguran yang keras tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukar ketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saat yang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami di sebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan penduduk asli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengan tradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupaya menjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebut negara kaum kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita, ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kita kehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokan kewibawaan dakwah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah kemungkinan dakwahnya sendiri kurang tersampaikan karena terkesan orang2 terlihat ekslusif, tidak ramah atau ketus.&lt;br /&gt;Malah atas dalil jaga pandangan atau jaga hati, jikalau ikhwan/akhwat berpapasan mereka tidak menyapa ataupun tersenyum? padahal mengucapkan salam dicontohkan Rasulullah.. seharusnya kita merenung, bahwa ke tidakramahan kita bisa jadi menjelekkan Islam itu sendiri... so, gaul!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimana kalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun. (AA Gym banget  )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyum&lt;br /&gt;Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikut terimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enak didengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajah walaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasuk orang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkan dengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa dengan orang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begitu enggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan, rasanya suasana menjadi cair, tiba-tiba kita merasa bersaudara. Kita dengan terburu-buru ingin menjawabnya, di situ ada nuansa tersendiri. Pertanyaannya, mengapa kita begitu enggan untuk lebih dulu mengucapkan salam? Padahal tidak ada resiko apapun. Kita tahu di zaman Rasulullah ada seorang sahabat yang pergi ke pasar, khusus untuk menebarkan salam. Negara kita mayoritas umat Islam, tetapi mengapa kita untuk mendahului mengucapkan salam begitu enggan? Adakah yang salah dalam diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapa&lt;br /&gt;Mari kita teliti diri kita kalau kita disapa dengan ramah oleh orang lain rasanya suasana jadi akrab dan hangat. Tetapi kalau kita lihat di mesjid, meski duduk seorang jamaah di sebelah kita, toh nyaris kita jarang menyapanya, padahal sama-sama muslim, sama-sama shalat, satu shaf, bahkan berdampingan. Mengapa kita enggan menyapa? Mengapa harus ketus dan keras? Tidakkah kita bisa menyapa getaran kemuliaan yang hadir bersamaan dengan sapaan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sopan.&lt;br /&gt;Kita selalu terpana dengan orang yang sopan ketika duduk, ketika lewat di depan orang tua. Kita pun menghormatinya. Pertanyaannya, apakah kita termasuk orang yang sopan ketika duduk, berbicara, dan berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua? Sering kita tidak mengukur tingkat kesopanan kita, bahkan kita sering mengorbankannya hanya karena pegal kaki, dengan bersolonjor misalnya. Lalu, kita relakan orang yang di depan kita teremehkan. Patut kiranya kita bertanya pada diri kita, apakah kita orang yang memiliki etika kesopanan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santun.&lt;br /&gt;Kita pun berdecak kagum melihat orang yang mendahulukan kepentingan orang lain di angkutan umum, di jalanan, atau sedang dalam antrian, demi kebaikan orang lain. Memang orang mengalah memberikan haknya untuk kepentingan orang lain, untuk kebaikan. Ini adalah sebuah pesan tersendiri. Pertanyaannya adalah, sampai sejauh mana kesantunan yang kita miliki? Sejauh mana hak kita telah dinikmati oleh orang lain dan untuk itu kita turut berbahagia? Sejauh mana kelapangdadaan diri kita, sifat pemaaf ataupun kesungguhan kita untuk membalas kebaikan orang yang kurang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku, Islam sudah banyak disampaikan oleh aneka teori dan dalil. Begitu agung dan indah. Yang dibutuhkan sekarang adalah, mana pribadi-pribadi yang indah dan agung itu? Yuk, kita jadikan diri kita sebagai bukti keindahan Islam, walau secara sederhana. Amboi, alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun. Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut, dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimana pun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada,, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, Insya Allah. Andai diri kita sudah berjuang untuk berperilaku lima S ini, semoga kita termasuk dalam golongan mujahidin dan mujahidah yang akan mengobarkan kemuliaan Islam sebagaimana dicita-citakan Rasulullah SAW, Innama buitsu liutammima makarimal akhlak, “Sesungguhnya aku diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-5445447747196488378?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/5445447747196488378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=5445447747196488378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5445447747196488378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/5445447747196488378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2007/10/fenomena-aktivis-tidak-ramah.html' title='Fenomena Aktivis Tidak Ramah!!'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6575314602648224711.post-1212898390077351282</id><published>2007-10-29T13:52:00.000+07:00</published><updated>2008-04-19T19:41:20.653+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kisah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UNNES'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Is Psychology a Science?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Introduction&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Since its first appearance in 2003, this article has become required reading in a number of college-level psychology courses. Because the original article was directed toward nonspecialist readers considering psychological treatment, students of psychology should be cautioned that the terms "psychology" and "clinical psychology" are used interchangeably.&lt;br /&gt;The field of human psychology is a powerful force in modern society, and its influence is widespread – in language, law, the social contract, and in our perception of ourselves. Because legal decisions are sometimes made based on psychology, decisions that might cause someone to be incarcerated or freed, decisions that might shape public policy, it is important to establish whether psychology is a science or a simple belief system. We should determine whether psychology can be relied on to objectively support the social and legal policies that are based on it. In modern times, such a serious public burden can only be borne by a field that is based on reason, on science. Which leads to our question: is human psychology steered by science?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://www.arachnoid.com/psychology/"&gt;More&gt;&gt;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6575314602648224711-1212898390077351282?l=psikologi-unnes.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/feeds/1212898390077351282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6575314602648224711&amp;postID=1212898390077351282' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/1212898390077351282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6575314602648224711/posts/default/1212898390077351282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologi-unnes.blogspot.com/2007/10/is-psychology-science.html' title='Is Psychology a Science?'/><author><name>Psikologi_UNNES</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00633605873040986379</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_zGppyqIDw7Q/SNBhY6bf3UI/AAAAAAAAADA/TzpQj8BVeys/S220/first+logo+himapsi+unnes.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
